PENGARUH POLATANAM SAMBILOTO - JAGUNG SERTA DOSIS PUPUK ORGANIK DAN ALAM TERHADAP PRODUKSI DAN MUTU SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees)

MUCHAMAD YUSRON, GUSMAINI GUSMAINI, M. JANUWATI M. JANUWATI

Abstract


ABSTRAK
Tuntutan pengguna untuk mendapatkan produk tanaman herbal
organik mendorong upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan
menggantikannya dengan pupuk organik dan alam. Penelitian lapang
untuk mendapatkan dosis pupuk organik pada pola tanam sambiloto –
jagung telah dilaksanakan di KP Cicurug pada bulan Juni – Desember
2006. Ukuran plot 3 m x 4 m dengan jarak tanam 30 cm x 40 cm (1
tanaman/lubang tanam), ditanam dengan sistem bedengan. Penelitian
dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok yang
disusun secara faktorial. Sebagai faktor pertama adalah polatanam, terdiri
dari : (1) P0 = monokultur; (2) P1 = polatanam dengan jagung, jarak tanam
jagung antar baris 150 cm dan dalam baris 20 cm. Sedangkan sebagai
faktor kedua adalah dosis pupuk per hektar, terdiri dari (a) D1 = 10 ton
kompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (b) D2 = 10 ton kompos
+ 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (c) D3 = 10 ton
kompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (d) D4 = 10 ton kompos
+ 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (e) D5 = 20 ton
kompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (f) D6 = 20 ton kompos +
300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (g) D7 = 20 ton
kompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio, (h) D8 = 20 ton kompos
+ 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, (i) D9 = 10
ton pupuk kandang + 200 kg urea + 200 kg SP36 + 100 kg KCl/ha.
Perlakuan D9 merupakan dosis pupuk rekomendasi yang dipergunakan
sebagai pembanding. Dari parameter pertumbuhan yang diamati, hanya
jumlah cabang yang dipengaruhi oleh perlakuan polatanam, dosis pupuk
organik dan pupuk alam. Polatanam monokultur menghasilkan jumlah
cabang lebih banyak dibandingkan pola tumpangsari dengan jagung.
Jumlah cabang primer terbanyak 32,92 dicapai pada perlakuan 10 ton
kompos + 500 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio. Produksi simplisia
sambiloto pada pola monokultur (terbuka) pada panen pertama dan kedua
berturut-turut adalah 507,57 kg/ha dan 797,56 kg/ha, lebih tinggi sekitar
18% dan 15% dibandingkan dengan produksi simplisia pada pola
tumpangsari dengan jagung. Produksi jagung pipilan yang diperoleh dari
pola tumpangsari berkisar antara 3.278 – 4.134 kg/ha. Pada panen pertama
produksi simplisia sambiloto tertinggi (614,87 kg/ha) diperoleh dari
perlakuan dosis pupuk rekomendasi, sedang pada panen kedua (896,63
kg/ha) dihasilkan pada dosis 20 ton kompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg
pupuk bio + 300 kg zeolit. Namun demikian produksi tersebut secara
statistik tidak berbeda nyata dengan produksi pada perlakuan dosis 20 ton
kompos + 300 kg fosfat alam + 60 kg pupuk bio + 300 kg zeolit, yakni
sebesar 835,10 kg/ha. Semua perlakuan menghasilkan mutu simplisia
sambiloto yang memenuhi standar MMI.
Kata kunci : Sambiloto, Andrographis paniculata Nees, polatanam,
jagung, pupuk organik, pupuk alam, produksi, mutu


ABSTRACT
Effect of Andrographis-corn cropping pattern and dosage
of organic and natural fertilizers on yield and quality of
Andrographis
An increase of demand of organic herbal medicinal plants
encourage the effort to change the use of inorganic fertilizers with organic
and natural fertilizers. Field experiment on andrographis was conducted at
Cicurug Research Station from June to December 2006. The aim of this
experiment was to obtain optimum dose of organic and natural fertilizers
of andrographis – corn cropping pattern. The experiment was conducted
using factorial randomized block design and three replications, where the
plot size was 3 m x 4 m and planting space was 30 cm x 40 cm. The first
factor was cropping systems i.e. (1) P0 = monoculture and (2) P1 =
intercropping of andrographis and corn (planting space of corn was 150
cm x 20 cm), while the second factor was dose of organic and natural
fertilizers per hectare, i.e.: (a) D1 = 10 ton compost + 300 kg rock
phosphate + 60 kg biofertilizer, (b) D2 = 10 ton compost + 300 kg rock
phosphate + 60 kg biofertilizer + 300 kg zeolite, (c) D3 = 10 ton compost
+ 500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer, (d) D4 = 10 ton compost +
500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer + 300 kg zeolite, (e) D5 = 20
ton compost + 300 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer, (f) D6 = 20 ton
compost + 300 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer + 300 kg zeolite,
(g) D7 = 20 ton compost + 500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer, (h)
D8 = 20 ton compost + 500 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer + 300
kg zeolite, (i) D9 = 10 ton manure + 200 kg Urea + 200 kg SP36 + 100 kg.
Treatment D9 is a recommended fertilizers dose, which was used as a
comparative dose. The result showed that cropping pattern and natural
fertilizers dosage did not affect growth parameters, except number of
branch. Cropping pattern and natural fertilizers dosage significantly
affected number of branch. The highest number of branch of 32.92 was
achieved on fertilizers dosage of 10 ton compost + 500 kg rock phosphate
+ 60 kg biofertilizer. The treatments significantly affected yield of
symplicia of andrographis. The yield of symplicia of monoculture system
at the first harvest was 507.07 kg/ha and the second was 797.56 kg/ha,
which was 18% and 15% higher than that of intercropped system. Yield of
corn ranged between 3,278 kg/ha and 4,134 kg/ha. At the first harvest, the
highest symplicia yield (614.87 kg/ha) was achieved at the treatment of
inorganic recommended dosage, while at the second harvest the highest
yield of andrographis symplicia (896.63 kg/ha) was obtained from the
treatment of 20 ton compost + 300 kg rock phosphate + 60 kg biofertilizer
dan 300 kg zeolite. This value, however, was not significantly different to
the yield of the treatment of 10 ton compost + 300 kg rock phosphate + 60
kg biofertilizer + 300 kg zeolite, which was 835.10 kg/ha. All treatments
resulted good quality of symplicia which meet MMI standard quality.
Key words : Andrographis paniculata Nees, cropping pattern, corn,
organic fertilizers, natural fertilizers, yield, quality


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jlittri.v13n4.2007.147-154

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2015 Jurnal Penelitian Tanaman Industri


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.




P-ISSN: 0853-8212
E-ISSN: 2528-6870

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

(Indonesian Center for Estate Crops Research and Development)

Jln. Tentara Pelajar No 1, Kampus Penelitian Cimanggu

Bogor 16111 Indonesia

Phone: +62251-8313083

Fax: +62251-8336194

Email: littri_puslitbangbun@yahoo.co.id



View My Stats