ADAPTASI TANAMAN HORTIKULTURA TERHADAP PERUBAHAN IKLIMPADA LAHAN KERING Adaptation of Horticultural Crops to Climate Change in the Upland

Yusdar Hilman, Suciantini Suciantini, Rini Rosliani

Abstract


Horticultural products (fruits, vegetables and ornamental crops) which have high competitiveness and added value, require supporting appropriate cultivation technology. The objective of this paper was to sort out adaptive technologies that can be implemented for horticultural cultivation, especially on dry land, to minimize yield loss due to climate changes. Horticultural crops in dry lands faced various problems. Characteristics of horticultural crops, among others were easily damage, bulky, sensitive to water stress and the incidence of pests and diseases. Another issue that has begun to happen in the field is the occurrence of extreme climate change, especially El Nino or La Nina that caused crop failures, damage to agricultural land resources, increased in frequency, extent, and intensity of drought, increased moisture, increased in the susceptibility to pests and the disease. Thus the integrated efforts that are needed in strengthening the capability of dry land to face climate change are by the application of adaptative technology, drafting disaster mitigation concepts, observing climate change, policy analysis related to the application of adaptive technology on climate change. The discussed Horticulture Commodities are focused on economically profitable crops, including: vegetables (potatoes, shallots, chili), fruits (bananas, citrus and melons) and ornamental crops (chrysanthemums, orchids, Polycias and Gerbera) scattered in two zoning zones where namely (i) lowland (0-600 meters above sea level); (ii) highlands (> 600 meters above sea level) and (iii) in both elevations of the site which have wet climates and dry climates. Attempsto be made to promote horticultural crops include performing water-efficient irrigation (drip irrigation), mulching, the use of shading on certain crops, proper fertilization, the use of organic fertilizer, planting system and planting distance, and tolerant varieties. Some adaptative technologies that can be adopted for horticultural crops include (1) developing watersaving irrigation technologies (drip and sprinkler irrigation on shallots), (2) applying healthy crop cultivation (good quality seeds, variety tolerant to disease and sub-optimal environment for tomatoes, red or hot chilli shallots and bananas), (3) using environmentally friendly chemical control (concept of threshold control in red or hot chilli), (4) protecting yield and quality of harvest (the use of silver black mulch on shallots and melons, and the use of shade for ornamental plants on dry land).

Keywords: Horticulture, climate change, upland, adaptation technology

 

Abstrak

Sistem produksi hortikultura (buah buahan, sayuran, dan tanaman hias) yang berdaya saing tinggi dan bernilai tambah memerlukan dukungan teknologi. Tulisan ini merangkum teknologi adaptasi komoditas hortikultura pada lahan kering dalam upaya meminimalisasi tingkat kehilangan hasil akibat perubahan iklim. Usaha tani tanaman hortikultura pada lahan kering dihadapkan pada berbagai masalah, di antaranya tanaman mudah dan cepat rusak, sensitif terhadap cekaman lingkungan, dan rentan terhadap hama dan penyakit. Masalah lain yang berdampak negatif terhadap sistem produksi komoditas hortikultura ialah perubahan iklim ekstrem, terutama el-nino dan la-nina. Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan kegagalan panen, tetapi juga merusak sumber daya lahan pertanian, meningkatkan luas areal dan intensitas tanaman yang mengalami kekeringan, meningkatkan kelembaban, dan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu diperlukan integrasi pengelolaan lahan dan aplikasi teknologi adaptif perubahan iklim, penyusunan konsep mitigasi bencana, observasi perubahan iklim, dan analisis kebijakan yang terkait dengan aplikasi teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim. Pembahasan difokuskan pada tanaman yang secara ekonomi menguntungkan, antara lain kentang, bawang merah, cabai untuk komoditas sayuran; pisang, jeruk, dan melon untuk komoditas buah-buahan; dan krisan, anggrek, polycias dan gerbera untuk tanaman hias. Komoditas hortikultura tersebut tersebar di dua zonasi ketinggian tempat, yakni dataran rendah (0–600 m dpl) dan dataran tinggi (> 600 m dpl). Beberapa teknologi adaptasi yang dapat diadopsi di antaranya (1) irigasi hemat air (irigasi tetes dan irigasi curah pada bawang merah), (2) budi daya tanaman sehat (benih bermutu, varietas toleran penyakit dan lingkungan suboptimal untuk komoditas kentang, cabai, bawang merah, dan pisang, (3) pengendalian hama dan penyakit ramah lingkungan (konsep ambang pengendalian pada cabai, jeruk), dan (4) perlindungan hasil dan peningkatan kualitas hasil panen (penggunaan mulsa plastik hitam perak pada tanaman bawang merah dan melon, serta penggunaan naungan pada tanaman hias anggrek dan krisan). Kata kunci: hortikultura, perubahan iklim, lahan kering, teknologi adaptasi


Keywords


Horticulture;climate change;upland;adaptation technology

Full Text:

PDF

References


Agus, F., Surmaini, E. and Sutrisno, N. (2005). Teknologi Hemat Air dan Teknologi Irigasi Suplemen, di dalam Teknologi Pengelolaan Tanah Kering. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Jakarta. pp. 223–245.

Amminudin, Suwardji and Basuki, E. (2014). Rancang bangun alat penyiraman tanaman otomatis dengan sistem irigasi tetes berbasis pompa energi surya dari sumber air sumur tanah dalam pada lahan kering. Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem 2(2): 79–86.

Ayyogari, K., Sidhya, P. and Pandit, M.K. (2014). Impact of climate change on vegetable –a review. International Journal of Agriculture, Environment & Biotechnology. IJAEB 7(1): 145– 155.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2013). Pedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian. Pertanian.

Badan Litbang Pertanian. Kementerian Pertanian. Bank Indonesia. (2015). Laporan Perekonomian Indonesia 2015. Inflasi Volatile Food (VF): Sumbangan Inflasi 9 Komoditas Pangan Strategis. hlm. 96–98.

BPS (2017). Statistik Hortikultura Provinsi Bali Tahun 2017. Denpasar.

BPS. Datta, S. (2013). Impact of climate change in Indian horticulture - A Review. International Journal of Science, Environment and Technology 2(4): 661–671.

De (2018). Impact of climate change on floriculture and landscape gardening. International Journal of Agriculture Science 10(11): 6253–6256.

Deuter, P. (2008). Defining the impacts of climate change on horticulture in Australia. Garnault Climate Change Review.

Garrett, K.A., Dendy, S.P., Frank, E.E., M.N. Rouse and Travers (2006). Climate change effects on plant disease: genomes to ecosystems S. E. Climate change effects on plant disease: genomes to ecosystems S. E. 44: 489–509.

Ghini, R., Bettiol, W. and Hamada, E. (2011). Diseases in tropical and plantation crops as affected by climate changes: current knowledge and perspectives. Plant Pathology 60: 122–132.

Gunadi, N., Prabaningrum, L., Moekasan, T. and Sulastrini, I. (2013). Assembling Production Technology of Chili-Paper under Netting House Inaccordance with Tropical Conditions and Needs of Farmers in Highlands in Order to Improve Product Quality and Ensuring Continuity of Supply throughout the Year.

Guoju, X., Fengju, Z., Zhengji, Q., Yubi, Y., Runyuan, W. and Juying, H. (2013). Response to climate change for potato water use efficiency in semi-arid areas of China. Agricultural Water Management 127: 119–123.

Hidayat, A. and Mulyani, A. (2005). Lahan Kering Untuk Pertanian. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanah Dan Agroklimat. Bogor.

Huang, J., Ma, W., Liang, G., Zhang, L., Wang, W., Cai, Z. and Wen, S. (2010). Effects of low temperatures on sexual reproduction of ‘Tainong 1’ mango (Mangifera indica). Scientia Horticultura 126: 109–119.

Junghuhn, F.W. (2013). Klasifikasi Iklim Junghuhn.GEO WEBCLASS. Available at: https://agnazgeograph.wordpress.com/ 2013/01/23/klasifikasi-iklim-junghuhn/ .

Kasiran (2006). Teknologi irigasi tetes “RO DRIP”untuk budidaya tanaman sayuran di lahan kering dataran rendah. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 8(1): 26–30.

Kurniawati (2012). Pengetahuan Dan Adaptasi Petani Sayuran Terhadap Perubahan Iklim (Studi Kasus: Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat). Tesis, Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung.

Marcelis, L., Broekhuijsen, A., Meinen, E., Nijs, E. and Raaphorst, M. (2008). Quantification of the growth response o light quantity of greenhouse grown crops. ISHS Acta Horticulturae 711. V International Symposium on Artificial Lighting in Horticulture.

Moekasan, T., Prabaningrum, L., Adiyoga, W. and Gunadi, N. (2013). OPT tanaman sayuran dan palawija serta strategi pengendaliannya. Balitsa Dan WUR, the Netherlands.

Muryati (2007). Pengaruh umur buah dan faktor iklim terhadap serangan penggerek buah Jeruk Citrifiestis sagitiferella: Mr. (Lepidoptera: Pyralidae). J. Horti 17(2): 188–195.

Mutmainnah (2016). Dampak perubahan iklim (DPI) terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman hortikultura. Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Bangka Belitung. Negara, KRS,

M. Antara, dan IN. Dhana. (2015). Hubungan tingkat pengetahuan petani tentang perubahan iklim dengan adaptasi budidaya stroberi di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Ecotrophic 9(2): 34–40.

Normand, F., Lauri, P. and Legave, J. (2013). Climate Change and Its Probable Impact on Mango Production and Cultivation. X International Mango Symposium (Mango: Opprtunities and Challenges in the 21st Century) 3–7 June 2013,

Punta Cana, Dominican Republic. Bahan Tayang. Nursyamsi, D. (2018). Di Indonesia Ada 80 Juta Hektar Lahan Kering, Bisa Untuk Tanaman Pangan. Available at: http:// jateng.tribunnews.com/2018/07/02/di-indonesia-ada-80-jutahektare- lahan-kering-bisa-untuk-tanaman-pangan. [Diakses pada 16 Februari 2018].

Paradiso, R. and De Pascale, S. (2014). Effects of Plant Size, Temperature, and Light Intensity on Flowering of Phalaenopsis Hybrids in Mediterranean Greenhouses. The Scientific World Journal 2014:1–9. doi: https://doi.org/10.1155/2014/420807.

Pasandaran, E. dan G. Irianto. (2009). Membangun Kemampuan Antisipatif dan Adaptif Masyarakat terhadap terhadap Perubahan Iklim. Buku: Kearifan Lokal sebagai Landasan Membangun Sekolah Iklim. Badan Litbang Pertanian. Penyunting: Wienarto, N; I. Amien; Haroyono; E. Pasandaran.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2014). Statistik Lahan Pertanian Th 2009–2013. Setjen Pertanian. Kementerian Pertanian.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (2014). Benih cabai kencana banyak diminati pengunjung PF2N Makassar. Badan Litbang Pertanian, Kementan.

Rai, R., Joshi, S., Roy, S., Singh, O., Samir, M. and Chandra, A. (2015). Implication of changing climate on productivity of temperate fruit crops with special reference to apple. Journal of Horticulture.

Ruminta (2015). Dampak perubahan iklim pada produksi apel di Batu Malang. Jurnal Kultivasi 14(2): 42–48.

Sarvina, Y.. and Sari, K. (2016). Identifikasi kondisi iklim sentra produksi durian dan rambutan. Bul. Hasil Penel. Agroklimat dan Hidrologi 13: 12–24.

Sudarma, I. and As-syakur, A. (2018). Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian di Provinsi Bali. Jurnal Sosial Ekonomi dan Agribisnis, Univ. Udayana 12(1): 87–98.

Sudjianto, U. and Kristiani, V. (2009). Studi pemulsaan dan dosis NPK pada hasil buah Melon (Cucumis melon L). Jurnal Sains dan Teknologi 2(2): 1–7.

Supriyanto (2010). Pengembangan Sorgum Di Lahan Kering Untuk Memenuhi Kebutuhan Pangan, Pakan, Energi Dan Industri. Available at: www.dppm.uii.ac.id/.../DPPM-UII_06._45- 51_PENGEMBANGAN_SORGUM].[20 September 2012]. Surmaini, E., Runtunuwu, E. and Las, I. (2011). Upaya sektor pertanian dalam menghadapi perubahan iklim. Jurnal Litbang Pertanian 30(1): 1–7.

Suwandi (2018). Menakar Kebutuhan Hara Tanaman Dalam Pengembangan Inovasi Budidaya Sayuran Berkelanjutan. Orasi Pengukuhan Prof. Riset Bidang Budidaya Tanaman. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Suwandi, Lukman, L., Sutarja, R. and Adiyoga, W. (2013). Vegetable Innovative Technologies for Climate Change Adaptation in the Tropics. Proceeding International Conference on Tropical Horticulture 2013. pp. 40–59.

Tabrani, G., Arisanti, R. and Gusmawartati (2005). Peningkatan produksi bawang merah (Allium ascalonicum L.) dengan pemberian pupuk KCl dan mulsa. J.Sagu IV(1): 24–31.

Widiastoety, D. and Bahar, F.A. (1995). Pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan Anggrek Dendrobium. Jurnal Holtikultura 4(5): 72–75.

Widiastoety, D., Prasetyo, W. and Solvia, N. (2000). Pengaruh naungan terhadap produksi tiga kultivar bunga anggrek Dendrobium. Jurnal Hortikultura 4: 302–306.

Widiastuti, L., Tohari and Sulistyaningsih, E. (2004). Pengaruh intensitas cahaya dan kadar daminosida terhadap iklim mikro dan pertumbuhan tanaman krisan dalam pot. Ilmu Pertanian 11(2): 35–42.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jp3.v38n1.2019.p55-64

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 

Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian
Jalan Salak No.22, Bogor 16151
Telp. : (0251) 8382563
Faks. : (0251) 8382567
E-mail : jurnallitbang@gmail.com
Website : http://bpatp.litbang.pertanian.go.id

          


Creative Commons License
JP3 is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

View My Stats