Risiko Sebagai Determinan Produksi Usaha Tani Padi: Suatu Penemuan di Tiga Wilayah Agroekosistem Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu

Aman Djauhari, Budiman Hutabarat

Abstract


English

Production risk is always found in every agricultural production process. Risk which is defined as probability of economic lost for a production decision maker to use a certain strategy of production process will always be one of the factors to be considered. A risk measurement study of rice farming in three ecosystems in Jambi, South Sumatera and Bengkulu was conducted in financial year of 1996/1997, to support the food crop production out of Java program.  A simple model that can use a normal tested distribution of crop cut yield of rice was used. Results show that in tidal swamp ecosystem the probability of lost was very small (<1 ,5%) in irrigation was larger (<3,5%), while in upland situation was largest (20%). The potential lost depends upon the probability if production falls below the break even yield and cash expenditure. In current state of art, the tidal swamp ecosystem shows the production risk amount about Rp 73,000 each hectare, in irrigation ecosystem Rp 294,000 each hectare and upland ecosystem Rp 268,000 each hectare. Analysis of each technology separately was suggested. High risk in upland ecosystem makes the rice farming not so dependable, many farmers supplement it with other non farm job and substituted with other more profitable crops. It is suggested that in irrigation scheme a more timely water management and adoption of more early maturing high yielding varieties in the down stream.


Indonesian

Risiko produksi selalu ada pada setiap usaha tani pertanian. Risiko yang diterjemahkan dengan peluang merugi bagi pengambil keputusan untuk mengadopsi suatu strategi proses produksi akan selalu menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan. Suatu studi pengukuran risiko pada usaha tani padi di tiga ekosistem di Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu telah diadakan pada tahun 1996/1997 untuk mendukung program perluasan produksi tanaman pangan ke luar Jawa. Suatu model yang mudah memanfaatkan sebaran normal dari hasil ubinan digunakan dalam pengukuran risiko pada usaha tani. Pada ekosistem pasang surut menunjukkan peluang yang kecil (1,5%) pada ekosistem irigasi peluang merugi lebih besar (< 4 %) dan pada ekosistem ladang peluang merugi terbesar (20%). Besarnya potensi merugi sangat tergantung kepada potensi produktivitas di bawah produksi impas dan besarnya biaya tunai. Pada situasi sekarang maka di ekosistem pasang surut dapat mencapai Rp.73.000 tiap hektar, di ekosistem sawah irigasi dapat mencapai antara Rp.294.000- Rp.562.000 tiap hektar dan di ekosistem ladang dapat mencapai Rp.268.000. Analisis menurut karakteristik teknologi masing-masing dianjurkan. Risiko yang tinggi pada ekosistem ladang menjadikan usaha tani padi bukan usaha tumpuan, disuplemen dengan usaha lain dan banyak petani mengganti dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan. Implikasi kebijaksanaan pada daerah irigasi ialah pengaturan air yang lebih mantap dan adopsi jenis unggul yang lebih sesuai (genjah) terutama daerah pelayanan hilir.

Keywords


risiko; sebaran normal; usaha tani; ekosistem; risk; normal distribution; rice farming; ecosystem

Full Text:

PDF (Indonesian)


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jae.v18n1.1999.56-66

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Jurnal Agro Ekonomi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Kementerian Pertanian
Lt. III Gedung A.
Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu
Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks.  (0251) 8314496
E-mail : jae.psekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id


Statistik Pengunjung


Google Scholar Scilit logo