Relasi Sosial dan Resiliensi Komunitas Petani Korban Erupsi Gunung Berapi di Kawasan Relokasi

Sri Suharyono, Nurmala K. Panjaitan, nFN Saharuddin

Abstract


Volcanic eruption victims to be relocated deal with two sequential shaking conditions, namely when a volcano erupts and when the community is relocated. This paper reviews the literatures on social relations and community resilience to the natural disasters, especially volcanoes, as well as how the relocation policy is implemented for farmer community victims. The ability of the community to rise from adversity due to natural disasters and to deal with challenges of a new life in the relocation area is determined by  existing resources and their adaptive capacity. The more various the resources and the stronger the adaptive the community, the community will be more resilient. Social relations will further accelerate community resilience. Relocation is expected to improve the community’s life, but in fact in several places it raises new problems. Some considerations are needed for relocation such as location, natural and social environment, and social ties in the community. It is essential to design an efficient, effective policy to deal with natural disasters which includes sustainable livelihood and social systems.

 

Abstrak

Komunitas korban erupsi gunung berapi yang direlokasi dihadapkan pada dua kondisi goncangan yang berurutan, yakni pada saat terjadinya erupsi dan saat komunitas tersebut direlokasi. Tulisan ini mengulas sejumlah literatur yang terkait dengan relasi sosial, resiliensi komunitas terhadap bencana alam yang mereka hadapi, khususnya gunung berapi. Ulasan juga mencakup bagaimana kebijakan relokasi yang diterapkan bagi komunitas petani korban bencana alam. Kemampuan komunitas untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana alam dan untuk menghadapi tantangan kehidupan yang baru di kawasan relokasi ditentukan oleh kekuatan sumber daya dan kapasitas adaptif yang dimiliki oleh komunitas. Semakin bervariasi sumber daya dan semakin kuat kapasitas adaptif yang dimiliki oleh komunitas maka menentukan sejauh mana resiliensi komunitas itu berlangsung. Relasi sosial dalam bentuknya yang asosiatif semakin mempercepat terjadinya resiliensi komunitas. Relokasi yang diharapkan mampu memperbaiki kehidupan komunitas dengan menjauhkannya dari ancaman bencana yang akan datang, justru di beberapa tempat menimbulkan persoalan. Diperlukan pertimbangan dalam pelaksanaan relokasi seperti lokasi, lingkungan alam dan sosial, dan juga ikatan sosial dalam komunitas. Perlu dirumuskan kebijakan yang efektif dan efisien untuk penanggulangan dampak bencana alam yang meliputi sistem penghidupan dan sistem sosial secara berkelanjutan.


Full Text:

PDF

References


Adger W N . 2000. Social and ecological resilience: are they related?.Progress in Human Geography. 24(3):347-364.

ADPC. 2006. Hazard, vulnerability and risk. Workshop on Earthquake Vulnerability Reduction for Cities and Damage Loss Estimation for Recovery Planning Research Center for Disaster Studies; 2006 28 Aug-01 Sep; Yogyakarta, Indonesia

Amiany, Sahay NS. 2011. Kajian permukiman kembali penduduk tepian sungai kahayan di kota palangka raya. Jurnal Arsitektur. 06(01): 44-51

Alvord MK, Grados JJ. 2005. Enhancing resilience in children. A proactive approach. Profesional Psychology: Research & Practic 36 (3): 338-345.

Ardiyanto. 2017. Relokasi Masyarakat rawan bencana: studi tahap relokasi di Dusun Blado, Giritirto, Purwosari, Gunung Kidul [Skripsi]. [Yogyakarta(ID)]: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Boer R, Faqih A, Ardiansyah M, Kolopaking L, Rakhman A, Nurbaeti B, Perdinan, Febriyanti S, Jatmiko SD, Anria A. 2013. Rencana aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dalam kerangka pengelolaan sumber daya air di das Citarum di Kabupaten Bandung Barat. Bandung (ID): Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLH) Kabupaten Bandung Barat

CARRI. 2013. Definitions of community resilience: an alanysis. Community and Regional Resilience Institute

Demakota CM, Wangke MW, Baroleh J. 2017. Interaksi sosial transmigran desa werdhi agung dengan penduduk asli Desa Ibolian di Kecamatan Dumoga Tengah. Agri-Sosio Ekon Unsrat. 13(1A): 239-252.

Dibyosaputo S, Cahyadi A, Nugraha H, Suprayogi S. 2016. Estimasi dampak perubahan iklim terhadap kerawan banjir lahar di Magelang, Jawa Tengah. Prosiding Seminar Nasional Geografi UMS ;2016

Juni 4; Solo, Indonesia. Solo (ID): Muhammadiyah University Press.

Dillashandy, N. A. 2017. Kapasitas adaptasi dan resilensi komunitas menghadapi bencana erupsi gunung merapi (kasus: Dusun Kalitengah lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman) [Skripsi]. [Bogor(ID)]: Institut Pertanian Bogor.

Dugan T & Coles R.1991. The child in over time. Studies in the development of resiliency. Journal of Traumatic Stress 4 (3): 458.

Gallopin GC. 2006. Lingkage between vulnerabality, recilience, and adaptive capacity. Global Environmental Change.16: 293-303.

Hadi IP. 2012. Dinamika Permukiman Relokasi Turgo di Dusun Sudimoro, Makalah Seminar Nasional Sustainable Urbanism; 2012 Maret 13; Semarang, Indonesia. Semarang(ID): Biro Penerbit Planologi Universitas Diponegoro.

Hartini, N. 2017. Resilensi warga di wilayah rawan banjir di Bojonegoro. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. 30(2): 114-120.

Hasyim AF. 2015. Agama dan lokalitas: harmoni sosial berbasis agama dan kearifan lokal di Desa Sampetan Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Wahana Islamika. 1(01):1-18.

Khadijah S. 2015. Komunikasi, kohesivitas dan pembentukan identitas di kalangan komuter berkereta api (kasus : kereta api patas purwakarta) [Tesis]. [Bogor (ID)]: Institut Pertanian Bogor

Kulig JC, Edge DS, Joyce B. 2008. Understanding community resiliency in rural communities through multidimethod research. J of Rural and Community Develop. 3(3):77-94

Layendecker L. 1983. Tata, perubahan,dan ketimpangan: suatu pengantar sejarah sosiologi. Jakarta (ID): PT Gramedia

Longstaff PH, Amstrong NJ, Perrin K, May W. 2010. Building resilient communities: a preliminary framework for assessment. Homeland Security Affairs 6(3) : 1-23.

Maarif S, Pramono R, Sunarti E. 2015. Kapital sosial dalam relokasi permukiman pasca erupsi merapi. J Riset Kebencanaan Indonesia. 1(1):1-10

Maguire B, Cartwright S. 2008. Assessing a community’s capacity to manage change: a resilience approach to social assessment. Social Science Program. Canberra (AU): Australian Government Bureau of Rural Science.

Marfai MA, Hadmoko DS, Cahyadi A, Sekaranom AB. 2012. Sejarah letusan gunung merapi berdasarkan fasies gunung api di daerah aliran sungai bedog, Daerah Istimewa Yogyakarta. Riset Geologi dan Pertambangan, 22 (2): 73-74.

Marseva AD, Putri EIK, Ismail A. 2016. Analisis faktor resilensi rumah tangga petani dalam menghadapi variabilitas iklim. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia. 17(1): 15-27.

Martanto F, Sagala SA. 2014. Faktor-faktor yang memengaruhi persoalan relokasi pasca bencana lahar dingin di kali putih. J Perencanaan Wilayah dan Kota. 27(02): 137-150.

McMillan DW, Chavis DM. 1986. Sense of community a definition and theory. J of Community Psychology. 14(1): 6-23.

Meiarti R, Wardhana GMK, Masruroh H, Setiawan B, Hastuti AE. 2016. Kajian hunian tetap terhadap pengurangan risiko dan penataan ruang pasca erupsi gunungapi merapi 2010. Di dalam Sudibyakto HA, Kurniawan L, editor. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan Ke II; 2015 Mei 26-28; Yogyakarta, Indonesia. Bogor (ID): Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia. hlm 110-119.

Mei ETW, Fajarwati A, Hasanati S, Sari IM. 2016. Resettlement following the 2010 Merapi Volcano eruption. Di dalam: Procedia. CITIES 2015 International Conference, Intelligent Planning Towards Smart Cities, Surabaya, 2015 Nov 3-4; Surabaya, Indonesia. Procedia-Social and Behavioral Science 227 : 361-369

Mutakin, Pasya GRK. 2003. Dinamika masyarakat Indonesia. Jakarta (ID): Departemen Pendidikan Nasional.

Myers DG. 2012. Psikologi sosial. Jakarta(ID): Salemba Humanika.

Nasdian FT. 2006. Pemberdayaan masyarakat. Jakarta(ID): Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Nisa A, Juneman. 2012. Peran mediasi persepsi kohesi sosial dalam hubungan prediktif persepsi pemanfaatan ruang terbuka publik terhadap kesehatan jiwa. Jurnal Makara Sosial Humaniora.16(2): 89-100.

Norris FH, Stevens SP, Pfefferbaum B, Wyche KF, Pfefferbaum RL. 2007. Community resiliensce as a methaphor, theory, set of capacities, and strategy for disaster. Journal of Community Psychology. 41: 127-150.

Nuryani S, Maaz A, Darmanto R, Jayadi E, Martono, Benito HR, Kusumandari A, Gatot M, Marwasta D, Jamhari, Kastono D. 2011. Dampak dan mitigasi bencana akibat erupsi merapi 2010. Simposium Gunung Merapi dan Kajian Perilaku; 2011 Feb 21; Yogyakarta, Indonesia; Yogyakarta (ID): Pusat Studi Sumber daya Lahan Universitas Gadjah Mada.

Oliver-Smith A. 1991. Post disaster housing reconstruction and social inequality: a challenge to policy and practice. Disaster.14 (1):7-19.

Panjaitan NK, Adriana G, Virianita R, Karlita N, Cahyani RI. 2016. Kapasitas adaptasi komunitas pesisir pada kondisi rawan pangan akibat perubahan iklim (kasus sebuah komunitas nelayan di Jawa Barat). J Sodality. 4(3): 281-290.

Permana YS. 2016. Mampukah subak bertahan? Studi kasus ketahanan sosial komunitas subak Pulagan, Gianyar Bali. Masyarakat Indonesia 42(2): 219-232.

Pujiriyani DW. 2014. Pengadaan tanah dan problem permukiman kembali: skema pemberdayaan untuk perlindungan masyarakat terdampak. J Bhumi. 40(13): 633-648.

Ramadhan A, Purnomo AH, Suryawati SH, Firdaus M. 2015. Kapasitas adaptif institusi formal pengelola kawasan perairan dalam mendukung resiliensi sosial ekosistem terumbu karang. J Sosek KP 10(2): 159-176.

Reivich K, Shatte A. 2002. The resilience factor: 7 essential skills for overcoming life’s inevitable obstacles. Random House, Inc. New York.

Romdon M. 2015. Rekonstruksi hunian tetap pasca bencana: studi kasus hunian tetap relokasi pasca bencana di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman [Tesis]. [Yogyakarta(ID)]: Universitas Gadjah Mada

Schiraldi GR. 2009. The post traumatic stress disorder sourcebook: Second Edition. USA: The McGrawHill Companies, Inc. (Ebook).

Soekanto S. 2010. Sosiologi suatu pengantar. Jakarta(ID): Raja Grafindo Persada.

Soelaeman M. 2011. Ilmu sosial dasar teori dan konsep Ilmu sosial. Bandung (ID): PT Refika Aditama

Spradley, Mc Curdy. 1975. Cultural experience, ethnography in complex society. Chicago:Science Research Association.

Sumarti T. 2015. Interaksi dan struktur sosial. Di dalam: Nasdian FT, Editor. Sosiologi Umum. Jakarta(ID): Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Sujarwanto I. 2012. Interaksi sosial antar umat beragama (studi kasus pada masyarakat Karangmalang Kedungbanteng Kabupaten Tegal). J of Education Soc Studies. 1(2): 60-65 Suprianto DH. (2012). Adaptasi sosial pengungsi erupsi gunung Merapi di hunian sementara (huntara) jenggala dusun Plosokerep desa Umbulharjo kecamatan Cangkringan kabupaten Sleman [Skripsi]. [Yogyakarta(ID)]: Universitas Negeri Yogyakarta.

Usamah M, Haynes K. 2012. An examination of the resettlement program at Mayon Volcano : what can we learn for sustainable volcanic risk reduction?.Bull Volcanol. 74: 839-859.

Utami PN. 2018. Peran pemerintah dan resilensi komunitas dalam menghadapi bencana (kasus Kampung Cikoneng, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor) [Skripsi]. [Bogor(ID)]:Institut Pertanian Bogor.

Van Breda AD 2001. Resilience theory: a literature review. Pretoria (ZA): South African Military Health Service, Military Psychological Institute.

Warohmah M. 2016. Dinamika resiliensi pada penyintas bencana erupsi gunung kelud [Skripsi]. [Yogyakarta(ID)]: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Wibowo. 2006. Manajemen perubahan. Jakarta (ID): Raja Grafindo.

Yuasidha NR. 2014. Kohesivitas penduduk asli dan pendatang dalam multikulturalisme. J Online Sosiol Fisip Unair Komunitas. 3(01): 1-35.

Bawole Paulus. 2015. Program Relokasi permukiman berbasis masyarakat untuk korban bencana alam letusan gunung merapi tahun 2010. J Tesa Arsitektur. 13(2):114-127

Pandia SL, Rachmawati R, Mei ETW. 2016. Relokasi permukiman desa suka meriah akibat kejadian erupsi gunung api sinabung Kabupaten Karo, J Perenc Wil dan Kota. 2(2): 137-150. DOI:10.5614/jrep.2016.27.2.5. http://journals.itb. ac.id/index.php/jpwk/article/view/1954 diunduh tanggal 6 Februari 2018.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/fae.v37n2.2019.159-172

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2020 Forum penelitian Agro Ekonomi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Kementerian Pertanian

Lt. III Gedung A. Kampus Penelitian Cimanggu
Jl. Tentara Pelajar No.3B, Kota Bogor-16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks.  (0251) 8314496
E-mail   : faepsekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id

Website design


       

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.