Kinerja Industri Kakao di Indonesia

Ening Ariningsih, Helena J Purba, Julia F Sinuraya, Sri Suharyono, Kartika Sari Septanti

Abstract


Indonesia is among the largest cocoa producing countries in the world. Various policies for cocoa production and quality improvement has been issued, but it still deals with some constraints. This paper reviews cocoa Indonesia’s industry performance and its development strategy. Over the past decade, Indonesia’s cocoa production kept declining due to decreased mature crop areas, unproductive crops enhancement, lower yield, and conversion of cocoa fields. Cocoa plantation is dominated by smallholders, limited capital, less knowledge, lack of technology access, and restricted market information. Government’s role is crucial in facilitating efforts to increase productivity, quality, and markets access besides to developing its downstream industries. Developing cocoa industry is not only the responsibility of the Ministry of Agriculture but it involves other institutions, i.e., local governments, NGOs, businessmen, research institutions, and investors. It is expected to improve Indonesia’s cocoa competitiveness in international market.

 

Abstrak

Indonesia termasuk negara produsen kakao terbesar di dunia. Pemerintah telah berupaya mengeluarkan berbagai kebijakan untuk peningkatan produksi dan mutu kakao, namun pengembangan kakao di Indonesia masih mengalami berbagai masalah. Tulisan ini menganalisis kinerja industri kakao serta strategi pengembangannya di Indonesia melalui penelaahan literatur. Selama dekade terakhir produksi kakao Indonesia terus menurun karena berkurangnya luas areal tanaman menghasilkan, meningkatnya tanaman tidak produktif, penurunan produktivitas, dan konversi lahan kakao. Perkebunan kakao didominasi perkebunan rakyat skala kecil, bermodal terbatas, serta akses terbatas terhadap teknologi dan informasi pasar. Peran pemerintah sangat penting dalam fasilitasi upaya peningkatan produktivitas, mutu, akses pasar, serta pengembangan industri hilirnya. Upaya pengembangan kakao bukan hanya tanggung jawab Kementerian Pertanian, tetapi bersifat lintas sektoral. Peran serta pemerintah daerah, LSM, pelaku bisnis, lembaga penelitian, dan investor sangat besar untuk mengembangkan dan membenahi agribisnis kakao di Indonesia sehingga daya saingnya meningkat di pasar internasional.


Keywords


constraint; development strategy; policy; problem; kebijakan; kendala; permasalahan; strategi pengembangan

Full Text:

PDF

References


Abubakar I, Hakim DB, Asmarantaka RW. 2016.

Struktur, perilaku dan kinerja pemasaran biji kakao di Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah. Forum Agribis. 6(1):1-20.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2018. Statistik kakao Indonesia 2017. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

Baihaqi A, Hamid AH, Romano, Yulianda A. 2014.

Analisis rantai nilai dan nilai tambah kakao petani di Kecamatan Paya Bakong dan Geurudong Pase Kabupaten Aceh Utara. Agrisep. 15(2):28-35.

Davit MJ, Yusuf RP, Yudar DAS. 2013. Pengaruh cara pengolahan kakao fermentasi dan non fermentasi terhadap kualitas, harga jual produk pada Unit Usaha Produktif (UUP) Tunjung Sari, Kabupaten Tabanan. E-J Agribis Agrowisata.

(4):191-203.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012a.

Pedoman umum gerakan nasional peningkatan produksi dan mutu kakao tahun 2013. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Perkebunan.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012b.

Pedoman penanganan pascapanen kakao. Lampiran Peraturan Menteri Pertanian Nomor

/Permentan/OT.140/9/2012 tanggal 4

September 2012. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal

Perkebunan.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2014.

Pedoman teknis budidaya kakao yang baik (good

agricultural practices/GAP on cocoa). Peraturan

Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/

/2014. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal

Perkebunan.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2015.

Rencana strategis Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2015-2019. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Perkebunan.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2016.

Roadmap kakao 2015-2045. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar.

Fischer E, Qaim M. 2012. Linking smallholders to markets: determinants and impacts of farmer collective action in Kenya. J World Dev.

(6):1255-1268. https://doi.org/10. 1016/j.world dev.2011.11.018

Hanum SS. 2018. Faktor-faktor yang memengaruhi alih fungsi lahan kakao menjadi kelapa sawit di Kabupaten Asahan Sumatera Utara [Skripsi]. [Bogor (ID)]: Institut Pertanian Bogor.

Hartartri DFS. 2015. Penanganan pascapanen dan pemasaran kakao di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Warta Puslitkoka. 27(2):37-41.

Hasibuan AM, Nurmalina R, Wahyudi A. 2012.

Pengaruh pencapaian kebijakan penerapan bea ekspor dan gernas kakao terhadap kinerja industri hilir dan penerimaan petani kakao (suatu pendekatan dinamika sistem). Bul Riset Tanam Rempah Aneka Tanam Industri. 3(2):157-170. doi: http://dx.doi.org/10.21082/jtidp.v3n2.2012.p157-

Hastuty S. 2017. Identifikasi faktor pendorong alih fungsi lahan pertanian. Prosiding Seminar Nasional. 3(1):253-257.

Haynes J, Cubbage F, Mercer E, Sills E. 2012. The search for value and meaning in the cocoa supply chain in Costa Rica. J Sustain. 4(7):1466-1487.

Herman, Hutagaol MP, Sutjahjo SH, Rauf A, Priyarsono DS. 2006. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi pengendalian hama penggerek buah kakao: studi kasus di Sulawesi Barat. Pelita Perkeb. 22(3):222-236.

Idris M. 2018 Agu 1. Di Kolaka Timur, Kementan bangun kawasan kakao berbasis korporasi [Internet]. [diunduh 2019 Mar 13]. Tersedia dari: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-

/di-kolaka-timur-kementan-bangun- kawasan-kakao-berbasis-korporasi

Indriati G, Samsudin, Rubiyo. 2013. Keefektifan paket teknologi pengendalian penggerek buah kakao di Provinsi Bali. Bul Riset Tanam Rempah Aneka Tanam Ind. 4(1):65-70.

[IEI dan UNIED] Indonesia Eximbank Institute dan University Network For Indonesia Export Development diwakili oleh Institute Pertanian Bogor. 2019. Proyeksi ekspor berdasarkan industri: komoditas unggulan. Jakarta (ID): Indonesia Eximbank.

[ICCO] International Cocoa Organization. 2019. ICCO

quarterly bulletin of cocoa statistic. Vol. XLV, No.

, Cocoa Year 2018/2019.

Karmawati E, Mahmud Z, Syakir M, Munarso SJ, Ardana K, Rubiyo. 2010. Budidaya dan pascapanen kakao. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. 92 hlm

Kementerian Perindustrian. 2011 Okt 13.

Pengembangan industri pengolahan kakao [Internet]. [diunduh 2019 Jan 17]. Tersedia dari: http://www.kemenperin.go.id/artikel/427/Pengemb angan-Industri-Pengolahan-Kakao.

Kontan.co.id. 2016 Mei 3. Kemtan menunda penerapan wajib fermentasi kakao [Internet]. [diunduh 2018 Feb 8]. Kontan.co.id: Industri/Agribisnis. Tersedia dari: https://industri. kontan.co.id/news/kemtan-menunda-penerapan- wajib-fermentasi-kakao

Listyati D, Wahyudi A, Hasibuan AM. 2014.

Penguatan kelembagaan untuk peningkatan posisi tawar petani dalam sistem pemasaran kakao. J Tanam Ind Penyegar. 1(1):15-28.

Managanta AA, Sumardjo, Sadono D, Tjitropranoto P.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kompetensi petani kakao di Provinsi Sulawesi Tengah. J Penyul. 15(1):120-133.

Manalu R. 2018. Pengolahan biji kakao produksi perkebunan rakyat untuk meningkatkan pendapatan petani. J Ekon Kebijak Publ. 9(2):99-

Maharani C, Siregar EB, Siregar MA. 2013. Analisis pengembangan perkebunan kakao rakyat di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Agrica. 6(1):71-84.

Mandala A. 2017 Mei 2. Pajak dan pasokan bahan baku biang keladi industri pengolahan kakao dalam negeri menciut [Internet]. Industry.co.id. [diunduh 2019 Feb 8]. Tersedia dari: http://www. industry.co.id/read/7700/pajak-dan-pasokan- bahan-baku-biang-keladi-industri-pengolahan- kakao-dalam-negeri-menciut

Maulana A, Kartiasih F. 2017. Analisis ekspor kakao olahan Indonesia ke sembilan negara tujuan tahun 2000–2014. J Ekon Pembang Indon.

(2):103-117.

Merdeka.com. 2014 Apr 25. Ini faktor penting bisa berkembangnya industri hilir [Internet]. [diunduh 9

Jun 2019]. Tersedia dari: https://www.merdeka. com/peristiwa/ini-faktor-penting-bisa-berkembang nya-industri-hilir.html

Muhajir A. 2018 Okt 2. Kakao fermentasi Jembrana menembus pasar bunia. Bagian 2 [Internet]. Mongabay:Sosial, Urban. [diunduh 2019 Jun 22]. Tersedia dari: https://www.mongabay.co.id/2018/

/02/kakao-fermentasi-jembrana-menembus- pasar-dunia-bagian-2/

Munarso SJ. 2016. Penanganan pascapanen untuk peningkatan mutu dan daya saing komoditas kakao. J Litbang Pertan. 35(3):111-120.

Munarso SJ, Miskiyah, Thamrin M. 2016a. Pengaruh penanganan pascapanen terhadap mutu dan keamanan pangan biji kakao. J Ind Hasil Perkeb.

(1):1-8.

Munarso SJ, Dewandari KT, Haifa Z. 2016b.

Pengaruh penambahan starter mikroba serta pemerasan pulp terhadap kondisi fermentasi dan mutu biji kakao (Theobroma cacao L.). J Penelit Pascapanen Pertan. 13(3):156-166.

Nonci N. 2017. Implementasi program Gernas Kakao: studi kebijakan program Gernas Kakao di Kabuapten Luwu. Makassar (ID): CV Sah Media.

hlm.

Nurhadi E, Hidayat SI, Indah PN, Widayanti S, Harya GI. 2019. Keberlanjutan komoditas kakao sebagai produk unggulan agroindustri dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Agriekon.

(1):51-61.

Nurhidayah. 2014. Analisis struktur, perilaku, dan kinerja pemasaran jambu mete gelondongan di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara [Tesis]. [Bogor (ID)]: Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana.

Permani R, Vanzetti D, Setyoko NR. 2011. Optimum level and welfare effects of export taxes for cocoa beans in Indonesia: A partial equilibrium approach. Paper presented at the 2011 AARES Annual Conference; 2011 Feb 8-11; Melbourne, Australia.

Pratama WP. 2018 Des 12. Ekspor olahan kakao tumbuh 11% per September 2018 [Internet]. Bisnis.com: Ekonomi. [diunduh 2019 Feb 8]. Tersedia dari: https://ekonomi.bisnis.com/read/

/257/868938/ekspor-olahan-kakao-

tumbuh-11-per-september-2018

Prastowo B, Mulato S, Sumanto, Efendi DS. 2012.

Peningkatan mutu kakao melalui pengatusan (depulping) lender biji secara mekanis. Makalah pada Seminar Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa. Kemenristek. Makassar.

[Puslitkoka] Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. tanpa tahun. Klon-klon unggul kakao lindak. Jember (ID): Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia

Ridwan A. 2013. Morfologi buah dan tingkat serangan Conopomorpha cramerella Snellen (PBK) pada beberapa klon kakao. J Agroplantae. 2(2):93-107.

Rubiyo R, Siswanto S. 2012. Peningkatan produksi dan pengembangan kakao (Theobroma cacao L.) di Indonesia. Bul Riset Tanam Rempah Aneka Tanam Industri. 3(1):33-48. doi: http://dx.doi.org/10.21082/jtidp.v3n1.2012.p33-48

Saptana, Purwantini TB, Sunarsih, Muslim C, Supriadi H, Zakaria AK. 2018. Panel Petani Nasional (Patanas): dinamika indikator pembangunan pertanian dan perdesaan di wilayah agroekosistem lahan kering berbasis komoditas perkebunan. Laporan Penelitian. Bogor (ID): Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Setiawan HP. 2018 Nov 28. Revitalisasi data kakao [Internet]. [diunduh 2018 Mei 2]. Tersedia dari: https://news.detik.com/kolom/d-4321119/revitalisa si-data-kakao

Suryana AT, Fariyanti A, Rifin A. 2014. Analisis perdagangan kakao Indonesia di pasar internasional. J Tanam Industri Penyegar.

(1):29-40. doi: http://dx.doi.org/10.21082/jtidp. v1n1.2014.p29-40

Syadullah M. 2012. Dampak kebijakan bea keluar terhadap ekspor dan industri pengolahan kakao. Bul Ilm Litbang Perdag. 6(1):53-68.

Trebbin A. 2014. Linking small farmers to modern retail through producer organizations – Experiences with producer companies in India. J Food Policy 45:35-44.

Wahyudi T, Panggabean TR, Pujianto. 2009.

Panduan lengkap kakao, manajemen agribisnis dari hulu hingga hilir. Cet ke-2. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Wonda M, Tomayahu E. 2016. Pendapatan usahatani tanaman kakao (Teobroma kakao) di Kelurahan Hinekombe, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Agrologia. 5(1):30-35.

Yusriadi M. 2015. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan tanaman kakao menjadi kelapa sawit di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya [Skripsi]. [Banda Aceh (ID)]: Universitas Syiah Kuala.

Zulfiandri, Maarif MS, Hermawan A, Hardjomidjojo H.

Biaya transaksi dan benefit cost pada integrasi vertikal rantai nilai agroindustri kakao skala kecil. J Manaj Agribis. 14(3):187-197.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/fae.v37n1.2019.1-23

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2020 Forum penelitian Agro Ekonomi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Kementerian Pertanian

Lt. III Gedung A. Kampus Penelitian Cimanggu
Jl. Tentara Pelajar No.3B, Kota Bogor-16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks.  (0251) 8314496
E-mail   : faepsekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id

Website design


       

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.