PENGARUH JUMLAH SEMAI AKASIA (Acacia villosa) DAN LAMTORO LOKAL (Leucaena glauca) SEBAGAI INANG PRIMER CENDANA (Santalum album L.)

Albertus Husein Wawo

Abstract


Cendana (Santalum album L.) adalah tumbuhan tropik yang bernilai ekonomi tinggi. Cendana diketahui sebagai tumbuhan hemi parasitik, dengan karakter parasit akar. Sebagai tumbuhan hemi parasitik cendana membutuh-kan tumbuhan lain sebagai inangnya. Inang primer dibutuhkan oleh cendana ketika masih hidup dalam bentuk semai di dalam polybag. Beberapa jenis inang primer yang telah dike-tahui adalah akasia (Acacia villosa) dan lam-toro lokal (Leucaena glauca). Tujuan peneliti-an ini adalah menetapkan jumlah inang primer dalam polybag dan membandingkan pengaruh akasia dan lamtoro pada pertumbuhan semai cendana. Penelitian dipolakan mengikuti Ran-cangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Pene-litian dilakukan di Stasiun Penelitian Kehutan-an cabang Sumba Timur di Hambala, Wainga-pu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Benih cendana diperoleh dari pulau Timor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh akasia lebih bagus daripada lamtoro lokal sebagai inang primer cendana. Hanya di-butuhkan satu semai sebagai inang primer un-tuk pertumbuhan optimal semai cendana dalam polybag. Penelitian ini memberikan informasi bahwa pertumbuhan lamtoro lebih cepat dari pada pertumbuhan akasia.

Keywords


Sandalwood; primary host; acacia; leucaena. Growth; East Sumba; East Nusa Tenggara

Full Text:

PDF

References


Agusta, A dan Y. Jamal. 2001. Fitokimia dan farmakologi Cendana (Santalum album). Berita Biologi. Vol. 5. No. 5. Puslit Biologi, LIPI, Bogor. hal. 561-567.

Fox, J.E.D and D.R. Barrett. 1994.Silvicultural characteristic associated with the ecology and parasitic habit of Sandalwood. In Sandalwood Seed, Nursery and Plantation Technology. Proceedings of a Regional Workshop for Pacific Islands Countries. Organised and Sponsored by CIRAD Foret New caledonia, ACIAR & South Pacific Forestry Development Programme. Noumea. New Caledonia. pp. 119-140.

Fox, J.E.D., A.I. Doronila., D.R. Barrett, and I.K. Surata. 1994. The selection of pot hosts for maximum nursery growth in Santalum album L. In Sandalwood Seed, Nursery and Plantation Technology. Proceedings of a Regional Workshop for Pacific Islands Countries. Organised and Sponsored by CIRAD Foret New Caledonia, ACIAR & South Pacific Forestry Development Programme. Noumea. New Caledonia. pp. 75-86.

Gomez, K.A. dan A.A. Gomez. 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 698 hal.

Hanafiah, K.A. 2000. Rancangan Percobaan. Teori dan Aplikasi. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 238 hal.

Heyne, K. 1987. Acacia villosa Willd. Dalam Tumbuhan Berguna Indo- nesia. Jilid II. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta, hal. 884-885.

Jones, R.J., J.L. Brewbaker, and C.T. Sorensson. 1997. Leucaena leuco- cephala (Lamk) de Wit. In Plant Resources of South East Asia. Forages. Vol. 4. PROSEA, Bogor, Indonesia. pp. 150-154.

Jukema, J and S. Danimihardja. 1997. Acacia glauca (L) Moench. In Plant Resources of South East Asia. Forages. Vol. 4. PROSEA, Bogor, Indonesia. pp. 58-60.

Middleton, C.H., R.J. Jones., H.M. Shelton, S.R. Petty, and J.H. Wildin. 1994. Leucaena in Northern Australia. In Leucaena : Opprtunities and Limitations. Proceedings of Workshop. Bogor. 24 – 29 Januari 1994. pp. 214–219.

Mindawati, N. 1987. Pengaruh beberapa tanaman inang terhadap pertum- buhan anakan Cendana (Santalum album L.). Buletin Penelitian Hutan. No. 492 Badan Litbang Kehutanan. Bogor. hal. 38-46.

Piggin, C.M., H.M. Shelton and P.J. Dart. 1994. Establishment and Early Growth of Leucaena. In Leucaena: Opprtunities and Limitations. Proceedings of Workshop. Bogor. 24 – 29 Januari 1994. pp. 87-93.

Rahayu, S., A.H. Wawo, M. van Noordwijk, dan K. Hairiah. 2002. Cendana. Deregulasi dan Strategi Pengembangannya. World Agro- forestry Center – ICRAF, Bogor. 60 hal.

Rai, S.N. 1990. Status and Cultivation of Sandalwood in India. In Proceedings of the Symposium on Sandalwood in the Pacific. April 9 - 11, 1990. Honolulu, Hawaii. pp. 66-71.

Wawo, A.H. 2002. Studi Morfologi dan Anatomi Hubungan Akar Cendana dengan Akar Inangnya. Makalah II. dalam Keanekaragaman Jenis Pohon Yang Diduga Sebagai Inang Sekunder Cendana di Pulau Timor – Nusa Tenggara Timur. Thesis S2. Program Pasca Sarjana, Program Studi Biologi Konservasi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia. hal. 71-111.

Wawo, A.H. 2003. Petai Cina. tumbuhan multi manfaat bagi masyarakat kecamatan Nangaroro, Ngada, Flores. NTT. Prosiding Seminar dan Pameran Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XXIV. IPB. Bogor. hal.

-73.

Wawo, A.H. 2004. Kajian kehadiran inang primer pada pertumbuhan semai Cendana BIOTA. Vol. IX No.2. Fakultas Biologi, Universitas

Atmajaya Yogyakarta. hal. 114-118.

Yitnosumarto, S. 1991. Percobaan, Perancangan, Analisis, dan Inter- pretasinya. Gramedia, Jakarta. 297 hal.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/bullittro.v20n1.2009.%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c)



View My Stats

Creative Commons License
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bultro

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BUL LITTRO) Editorial Office :

Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute (ISMCRI)
Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor, Indonesia 16111
Telp. (0251) 8321879, Fax. (0251) 8327010
E mail : buletintro@gmail.com
Website : http://balittro.litbang.pertanian.go.id