Perdagangan Antarpulau Beras di Provinsi Sulawesi Selatan

Sri Hery Susilowati

Abstract


As the main staple food, rice is a strategic commodity. Rice production is seasonal and varies among regions. On the other hand, demand for rice is relatively continuous over time throughout the country. Given the characteristics of Indonesia as an archipelagic country dominated by marine areas, inter-island rice trade is a way of bridging the distribution of rice production supply from surplus areas to those deficit one. The study aims to analyze the inter-island rice trade in South Sulawesi including dynamics of inter-island rice trade in the last two decades, distribution of rice trade, and profit margin of each trade actor. Secondary data were collected from various related agencies in Jakarta and South Sulawesi. Primary data were obtained through a survey with farmers and traders as respondents and through group discussions with key informants in 3 regencies/municipality in South Sulawesi Province. Analysis results show that dynamics of inter-island rice traded from South Sulawesi relatively unstable with an increasing trend. Peak shipments occurred in October and the largest share of rice shipments came from Pare-Pare Municipality (60.5%). Jakarta is the main destination for rice delivery with the largest number of shipments (33%), followed by Belawan and Ambon. Considering the characteristics of rice production, consumption and market integration, and importance of rice as an economic and political commodity, inter-rice trade policy can be used as an instrument for stabilizing rice prices. It is necessary to manage spatial and continuous network of marketing activities at national level, i.e. procurement, distribution and storage, according to the rice market size in each region.

 

Abstrak

Sebagai bahan pangan pokok utama, beras merupakan komoditas strategis. Produksi beras dipengaruhi oleh musim dan terdapat kesenjangan antarwilayah, sebaliknya permintaan beras menyebar sepanjang waktu di seluruh wilayah Indonesia. Dengan karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan yang didominasi oleh wilayah perairan, perdagangan antarpulau beras merupakan cara yang ditempuh dalam menjembatani distribusi pasokan produksi beras dari wilayah surplus dengan permintaan dari wilayah defisit. Tujuan kajian adalah untuk menganalisis keragaan perdagangan antarpulau beras di Provinsi Sulawesi Selatan, meliputi dinamika perdagangan antarpulau beras dalam dua dekade terakhir, distribusi perdagangan beras serta marjin yang diperoleh masing-masing pelaku perdagangan beras di Sulawesi Selatan.  Data dan informasi yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder dikumpulkan dari berbagai instansi terkait di Jakarta dan Sulawesi Selatan.  Data primer diperoleh melalui pendekatan survei kepada petani dan pedagang dan melalui diskusi kelompok dengan informan kunci di tiga kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil analisis menunjukkan dinamika volume beras yang diantarpulaukan dari Provinsi Sulawesi Selatan relatif berfluktiatif namun menunjukkan kecenderungan meningkat. Puncak pengiriman beras  antarpulau terjadi pada bulan Oktober dan pangsa pengiriman beras terbesar berasal dari Kabupaten Pare-Pare (60,5%). Jakarta merupakan kota tujuan pengiriman beras utama dengan jumlah pengiriman terbesar, diikuti Belawan dan Ambon. Dengan pertimbangan karakteristik produksi, konsumsi beras, dan pasar beras yang terintegrasi, serta pentingnya beras sebagai komoditas ekonomi dan politik, maka kebijakan perdagangan antarpulau beras dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk stabilisasi harga beras. Untuk itu diperlukan kebijakan Pemerintah yang mengelola jaringan kegiatan pemasaran antartempat dan antarwaktu (pengadaan, penyaluran dan penyimpanan) secara nasional yang disesuaikan dengan besar kecilnya pasar beras di masing-masing wilayah/daerah. 


Keywords


rice; inter-island trade; trade margin; beras; perdagangan antarpulau; marjin perdagangan

Full Text:

PDF

References


Anwari IRM. 2015. Sistem perekonomian kerajaan majapahit. J Kesejarahan. 3(2):104-115.

Aryani. 2012. Integrasi vertikal pasar produsen gabah dengan pasar ritel beras di Indonesia. J Manaj Teknologi. 11(2):225-238.

[BKP] Badan Ketahanan Pangan. 2015. Statistik ketahanan pangan 2014. Jakarta (ID): Badan Ketahanan Pangan.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013a. Statistik harga konsumen 2013. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013b. Proyeksi penduduk Indonesia 2010-2035. Kerjasasama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan United Nation Population Fund. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Statistik Harga konsumen 2014. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Statistik harga konsumen 2015. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016a. Distribusi perdagangan beras Indonesia. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016b. Statistik Indonesia 2016. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

[Balitbangtan] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2016. Panen raya padi di Sulsel, Mentan terjunkan tim serap gabah. http:// bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/berita-utama/conte nt/300-panen-raya-padi-di-sulsel-mentan-terjunkan-tim-serap-gabah.

BULOG. 2012. Unit Pengelolaan Gabah Beras (UPGB). diunduh di: http://www.Bulog.co.id/ bisnisupgb.php.

Darman. 2013. Perdagangan luar negeri Indonesia-Amerika Serikat. Binus business review. 4(2):742-755 .

[Dinas Pertanian TPH Provinsi Sulawesi Selatan] Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan. 2015. Kajian distribusi beras antarpulau Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar (ID): Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan.

[Dinas Pertanian TPH Provinsi Sulawesi Selatan] Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan. 2016a. Rekap produksi beras bulanan di Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar (ID): Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Povinsi Sulawesi Selatan.

[Dinas Pertanian TPH Provinsi Sulawesi Selatan] Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan. 2016b. Rekap produksi beras yang diantarpulaukan dari Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar (ID): Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan.

Farid M, Subekti NA. 2012. Tinjauan terhadap produksi, konsumsi, distribusi dan dinamika harga cabe di Indonesia. Bul Ilm Litbang Perdagang. 6(2):211-234.

[Inpres] Instruksi Presiden RI Nomor 5 Tahun 2015 tentang kebijakan pengadaan gabah/beras dan penyaluran beras oleh Pemerintah. Jakarta (ID). Sekretariat Negara RI.

Ismet M. 2007. Tantangan mewujudkan kebijakan pangan nasional yang kuat. PANGAN. 48(XVI): 3-8.

Jermias JA, Penu CL, Tulle DR, Foenay TAY. 2016. Perdagangan antarpulau sapi bali dari Timor Barat ke DKI Jakarta. Partn. 16(2):103-111.

[Kemendag] Kementerian Perdagangan. 2013. Analisis pendirian pusat distribusi regional. Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan. Jakarta (ID). Dapat diunduh di http://bppp.kemendag. go.id/media_content/2017/08/ANALISIS_KEBERHASILAN_PUSAT_DISTRIBUSI_REGIONAL.pdf.

Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan Utama Makassar. 2016. Laporan rekapitulasi bongkar muat komoditas berdasarkan asal/tujuan barang bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Makassar (ID): Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Kementerian Perhubungan.

Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan Pare-Pare. 2016. Laporan rekapitulasi bongkar muat komoditas berdasarkan asal/tujuan barang bulan Januari sampai dengan Desember 2015. Pare-Pare (ID). Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Kementerian Perhubungan.

Makbul Y, Ratnaningtyas S, Dwiyantoro P. 2014. Prices Cointegration Analysis between Rice and Paddy in Indonesia: A Preliminary Study. J of Bus and Economics. 5(3):390-396.

Mardianto S, Supriatna Y, Agustin NK. 2005. Dinamika pola pemasaran gabah dan beras di Indonesia. Forum Penelit Agro Ekon. 23(2):116–131.

Mustadjab MM, Setiawan B, Pamungkas C. 2008. Analisis pemasaran beras dalam upaya peningkatan pendapatan petani (Studi Kasus pada Sentra Produksi Padi di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah). AGRISE. VIII(1):1412-1425.

[Permendag] Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 74/M-Dag/Per/9/2015 tentang perdagangan antarpulau gula kristal rafinasi. Jakarta (ID): Kementerian Perdagangan RI.

[Permendag] Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 46/M-Dag/Per/8/2014 tentang ketentuan umum verifikasi atau penelusuran teknis di bidang perdagangan. Jakarta (ID): Kementerian Perdagangan RI.

[Perpres] Peraturan Presiden RI Nomor 71 tahun 2015 tentang penetapan dan penyimpanan barang kebutuhan pokok dan barang penting. Jakarta (ID): Sekretariat Negara RI.

[Perpres] Peraturan Presiden RI Nomor 48 Tahun 2016 tentang penugasan kepada Perusahaan Umum (Perum) Bulog dalam rangka ketahanan pangan nasional. Jakarta (ID): Sekretariat Negara RI.

[Pusdatin] Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2015. Outlook komoditas pertanian tanaman pangan padi. Jakarta (ID): Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementerian Pertanian.

Prastowo, NJ, Yanuarti T, Depari Y. 2011. Pengaruh distribusi dalam pembentukan harga komoditas dan implikasinya terhadap inflasi. Working paper WP/07/2008. Bank Indonesia. Jakarta (ID): Diunduh dari http://www.bi.go.id/id/publikasi/lain/ kertaskerja/Documents/7ecb03a80f5748e5a557188ec3f47074WP200807.pdf.

Ruauw E. 2015. Kajian distribusi pangan pokok beras di Kabupaten Kepulauan Talaud. Agri-Sosioekonomi. 11(1):58-68.

Rusastra IW, Rachman B, Sumedi, Sudaryanto T. 2003. Struktur pasar dan pemasaran gabah-beras dan komoditas competitor utama. Laporan penelitian kerjasama. Bogor (ID): Puslitbang Sosek Pertanian dengan Bappenas/USAID/DAI.

Sitorus B. 2014. Perbedaan teknologi produksi: implikasi pada konten faktor perdagangan Indonesia-Amerika. Bul Ilm Litbang Perdagang. 8(2):209-228.

Tabor SR. 2015. Constraints to indonesia’s economic growth. ADB papers on Indonesia No.10. Metro Manila (PH): Asian Development Bank. Available at https://www.adb.org/sites/default/files/publication/ 178041/ino-paper-10-2015. pdf.

[UU] Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan. Jakarta (ID): Sekretariat Negara RI.

[UU] Undang-Undang RI Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan 7 Tahun 2014 tentang Pangan. Jakarta (ID): Sekretariat Negara RI.

Yunus K. 2012. Penerapan pola distribusi hasil-hasil pertanian dan tambang antara Provinsi Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan dalam perspektif pembangunan ekonomi regional. ILTEK. 7(13):982.

Zain MM, Bakri S, Ibrahim H, Dirawan GD. 2016a. Analysis of factors marketing of commodities rice inter- island in South Sulawesi. Man In India. 96(5):1697-1702.

Zain MM, Syafar AR, Lasumange, Fatmawati. 2016b. Rice farmer institutional strengthening based on agricultural business. Int J of Scientific & Technology Res. 5(6):390-393.

Zain MM, Syafar AR, Lasumange, Fatmawati. 2016c. Evaluation competitiveness of rice and rice production in South Sulawesi. Int J of Curr Res. 8(03):28223-28227.

Zou KH, Tuncali K, Silverman SG. 2003. Statistical concepts series. correlation and simple linear regression. Radiol. 227:617-628.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/akp.v15n1.2017.19-41

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Analisis Kebijakan Pertanian

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Kementerian Pertanian
Kawasan Penelitian Cimanggu
Jln. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks. (0251) 8314496
E-mail: akppsekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id