Pengembangan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di antara Tanaman Karet Belum Menghasilkan

nFN Sahuri

Abstract


Land between juvenile rubber rows in the rubber plantation is potential for corn farming. This research aimed to assess corn production and added value of corn farming intercropped with juvenile rubber. It also studied effect of corn intercrop on land productivity improvement and juvenile rubber growth.  The experiment was conducted at the Sembawa Research Station from January until April 2016 on the juvenile rubber plantation using IRR 112 clone and spacing of 6 m x 3 m (550 tree per ha). The experiment was carried using a randomized block design (RBCD) with treatments of two planting-patterns, i.e. PT1 (rubber+corn) and PT2 (monoculture corn) with three replications, and the control was monoculture corn. The data were analyzed using ANOVA followed by DMRT at the level of 5%. Results of the research showed that corn intercropped with rubber significantly affected land productivity and IRR 112 clone growth during juvenile rubber period. Intercropped corn farm business in the juvenile rubber plantation was profitable as its R/C ratio of 1.62 at corn lower price and R/C ratio of 2.27 at corn higher price. Intercropped corn farming was profitable and it was feasible practiced inside the juvenile rubber plantation.

 

Abstrak

Lahan di antara tanaman karet belum menghasilkan (TBM) berpotensi untuk dimanfaatkan guna mengembangkan tanaman jagung. Penelitian bertujuan mengetahui produksi jagung serta nilai tambah usaha tani jagung sebagai tanaman sela dan mengetahui pengaruh tanaman sela jagung terhadap peningkatan produktivitas lahan karet dan pertumbuhan lilit batang karet. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, kebun karet TBM klon IRR 112, jarak tanam 6 m x 3 m (550 pohon/ha), dimulai dari bulan Januari sampai April tahun 2016. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), terdiri dari dua pola tanam yaitu: PT1 (karet+jagung) dan PT2 (karet monokultur), diulang tiga kali dan sebagai pembanding adalah jagung monokultur. Data dianalisis dengan sidik ragam, jika berbeda nyata diuji lanjut DMRT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman jagung sebagai tanaman sela karet berpengaruh nyata terhadap peningkatan produktivitas lahan karet dan pertumbuhan tanaman karet klon IRR 112 pada masa TBM. Usaha tani jagung sebagai tanaman sela karet pada saat harga rendah masih menguntungkan dengan R/C ratio 1,62, sedangkan pada saat harga tinggi sangat menguntungkan dengan R/C ratio 2,27. Secara ekonomi usaha tani jagung menguntungkan dan layak untuk dikembangkan sebagai tanaman sela karet pada masa TBM.  


Keywords


corn; intercrops; land productivity; juvenile rubber; jagung; produktivitas lahan; tanaman sela; tanaman karet belum menghasilkan

Full Text:

PDF

References


Anikumar D, Jessy MD, Nair RB. 2005. Intercropping in immature rubber plantations-India experience. p. 122-127. Dalam: Krishnakumar AK, Damodaran MV, Mohanan KG, Varghese S, Nair MGSC, Jacob J, Jessy MD (eds). Proceedings of International Progress and Development of Rubber Small Holders, India 9-11 November 2005. New Delhi (IN): The Rubber Board India.

Anwar K. 2006. Manajemen dan teknologi budidaya karet. Prosiding Seminar Tekno Ekonomi Agribisnis Karet 2006.[Internet] [Diunduh 2017 Apr 17]. Tersedia dari: http://elearning.upnjatim.ac.id.

Ar-riza, Nazemi ID, Alwi M. 2001. Peranan glifosat dalam pengendalian gulma dan suksesi gulma pada pertanaman padi intercrop dengan tanaman karet di lahan kering masam. 496-503. Dalam: Suroto D, Yunus A, Purwanto E, Wartoyo, Supriyono (eds). Prosiding Konferensi Nasional XV Himpunan Ilmu Gulma Indonesia. Surakarta (ID): Himpunan Ilmu Gulma Indonesia.

As-syakur AR. 2009. Evaluasi zona agroklimat dari klasifikasi Schimidt-Ferguson menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG). J Pijar. 3(1):17-22.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Luas lahan, produksi, dan produktivitas jagung. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik.

Carlito R, Solera R, Rudy L, Alcala EA. 2007. Integrating tree crops, annual crops and natural rubber in avenue cropping sytem: a sustainable soil-conserving and property-alleviating agroforestry model in the Philipine Uplands. International Rubber Conferences, Cambodia, 12-13 November 2007. Phnom Penh (KH): Cambodian Rubber Research Intitute.

Dalimunthe SR, Arif AB, Jama IB. 2015. Uji ketahanan terhadap aluminium dan pH rendah pada jagung (Zea mays L) varietas pioneer dan srikandi secara in vitro. J Pertan Tropik 2(3):292-299.

Djaenudin D, Marwan H, Hidayat A, Subagyo H. 2003. Petunjuk teknis evaluasi lahan untuk komoditas pertanian. Bogor (ID): Balitanah, Puslitbangtanak, Balitbang Pertanian.

[Ditjenbun] Direktorat Jenderal Perkebunan. 2017. Statistik Perkebunan Karet Indonesia 2015-2017. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian.

[FAO] Food and Agricultural Organization. 2002. FAOSTAT Agricultural Database 2002. [Internet]. [cited 2017 Mar 21]. Available from: http://faostat.fao.org.[14 Desember 2017].

Esekhade TU, Mokwunye MUB. 2007. Rubber cropping system potential for resource sustainability rubber plantation in Nigeria. In: M.V. Son, N.N. Bich and T.V. Thinh (eds). Proceedings of International Natural Rubber Conference Vietnam, 13-14 November 2006. Hanoi (VN): Rubber Research Institut of Vietnam.

Ferry Y, Pranowo D, Rusli. 2013. Pengaruh tanaman sela terhadap pertumbuhan tanaman karet muda pada sistem penebangan bertahap. Buletin RISTRI. 4(3):225-230.

Firdaus A. 2007. Booklet jagung karet: analisis finansial tumpangsari jagung pada perkebunan karet rakyat. Jambi (ID): Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi.

George S, Meti S, Nair U. 2007. Cocoa: a potential intercropping for mature rubber. In: Son MV, Bich NN, Thinh TV (eds). Proceedings of International Natural Rubber Conference Vietnam, 13-14 November 2006. Hanoi (VN): Rubber Research Institut of Vietnam.

Gomez KA, Gomez AA. 1995. Statistical procedures for agriculture research. An International Rice Research Institute Book. Manila (PH): John Wiley and Sons.

Irwan AW. 2006. Budidaya tanaman kedelai (Glycine max (I.) Merrill). Bandung (ID): Unpad Press.

Jacob J, Jessy ID. 2013. Agronomic sustainability of rubber holdings in India strategies and challenges. IRRDB Agronomy Workshop, Medan, 9-12 Mei 2013. Kuala Lumpur (MY): International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) Press.

Jose MJ. 2002. Pineaple intercropping in rubber. P. 93-94. In Jacob CK, Thomas KK (Ed). Proceedings of Rubber Planters’ Conference, Rubber Research Institute of India. Kottayam (IN): Rubber Research Institute of India.

Joshi L, Wibawa G, Supriadi M. 2007. Smallholder agroforestry research and development in Indonesia: experience from Jambi and West Kalimantan. p. 187-191. In: Supriadi M, Wijaya T, Syamsu Y, Ramdhan A, and Oktavia F (eds). Proceedings of International Rubber Conference and Products Exhibition, Bali 13th-15th June 2007. Bogor (ID): Indonesian Rubber Research Institute, Bogor.

Kheowvonsri P. 2007. Diversification in smallholder rubber system in Sothern Thailand. p.199-203. In: Supriadi M, Wijaya T, Syamsu Y, Ramdhan A, Oktavia F. (eds). Proceedings of International Rubber Conference and Products Exhibition, Bali 13th-15th June 2007. Bogor (ID): Indonesian Rubber Research Institute, Bogor.

Kung P. 1971. Irrigation agronomy in Monsoon Asia. AGPC., Misc. Rome (IT): Food and Agriculture Organization.

Kuntyastuti H, Taufiq A. 2008. Komponen teknologi budidaya kedelai di lahan kering. Bul Palawija 1(6):31-47.

Marwoto A, Wijanarko, Subandi. 2008. Prospek pengusahaan tanaman kedelai di perkebunan karet. p. 280-293. Dalam: Supriadi M, Sagala AD, Siagian N, Kustyanti T, Rachmawan A. (ed.). Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Karet, Yogyakarta, 20-21 Agustus 2008. Bogor (ID): Pusat Penelitian Karet, Bogor.

Maswar. 2009. Kecepatan dekomposisi biomassa dan akumulasi karbon pada konversi lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit. Balai Penelitian Tanah. Bogor. Dalam: Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumberdaya Lahan, Bogor, 24-25 November 2009 Buku II: Teknologi Konservasi, Pemupukan, dan Biologi Tanah. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Musyadik, Agussalim, Marsetyowati T. 2014. Penentuan masa tanam kedelai berdasarkan analisis neraca air di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Widyariset 17(2):277–282.

Nengfa P, Xiongfei Y. 2004. Intercropping patterns and their development in rubber plantations in Dehong District, Yunnan, China. p. 183-187. In: Qiubo C, Jiannan Z, Weifu L. (eds). Proceedings of IRRDB Symposium 2004. Beijing (CN): China Agriculture Press.

Novalinda R, Syam Z, Solfiyeni. 2014. Analisis vegetasi gulma pada perkebunan karet (Hevea brasiliensis Mull.Arg.) di Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan. J Biologi. 3(2):2303-2162.

Oldeman L, Irsal R, Muljadi L. 1980. Agro-climatic map of Sumatra. Central Research Institute for Agriculture. Bogor (ID): IPB Press.

Ogwuche P, Umar HY, Esekhade TU. 2012. Economies of intercropping natural rubber with arable crops: a panacea for poverty alleviation of rubber farmers. J Agric Soc Sci. 8(3):100102.

Pansak W. 2015. Assessing rubber intercropping strategies in Northern Thailand using the water, nutrient, light capture in Agroforestry Systems Model. Kasetsart J (49):785794.

Pathiratna LSS, Perera MKP. 2006. Effect of competition from rubber (Hevea) on the yield of intercropped medicinal plants, Solatium virginianum Schrad., Aerva lanata (L.) Juss. Ex. Schult and Indigofera tinctoria L. Jof the Rubber Res Inst of Sri Lanka (87):3645.

Pathiratna LSS. 2006. Management of intercrops under rubber: implications of competition and possibilities for improvement. Bulof the Rubber ResInstof Sri Lanka. (47):816.

Prukwiwat W. 2005. Rubber based crops integration recomendation for smallholder in Thailand. p. 128-132. In: Krishnakumar AK, Damodaran MV, Mohanan KG, Varghese S, Nair MGSC, Jacob J, Jessy MD. (eds). Proceedings of International Progress and Development of Rubber Small Holders, India 9-11 November 2005. New Delhi (IN): The Rubber Board India.

[Pusdatin] Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Jagung. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian.

Raintree J. 2005. Intercropping with rubber for risk management, improving livelihoods in the Lao PDR. J of AgricForestry Res. (2):41-46.

Rodrigo VHL, Nugawela A, Pathirathne LSS, Kodikara PB, Weeralal JLK. 1995. Effect of planting density on growth, yield related factors and profitability of rubber (Hevea brasiliensisMuell. Arg.). J Rubber Res Inst Sri Lanka. (76):55-71.

Rodrigo VHL. 2001. Rubber based intercropping systems. In: Tillekeratne LMK, Nugawela A. (Ed.). Handbook of Rubber Agronomy Volume 1 (satu). pp. 139-155. Sri Lanka (PK): Rubber Research Institute of Sri Lanka.

Rodrigo VHL, Stirling CM, Teklehaimanot Z, Nugawela A. 2001. Intercropping with banana to improve fractional interception and radiation-use efficiency of immature rubber plantations. Jof Field Crops Res. (69):237-249.

Rodrigo VHL, Silva TUK, Munasinghe ES. 2004. Improving the spatial arrangement of planting rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) for long-term intercropping. Jof Field Crops Res. 89(2):327-335.

Rodrigo VHL, Stirling CM, Silva TUK, Pathirana PD. 2005. The growth and yield of rubber at maturity is improved by intercropping with banana during the early stage of rubber cultivation. JField Crops Res. 91(1):23–33.

Rohman F. 2014. Pengaruh dosis pemupukan Bokashi terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas jagung komposit pada sistem agroforestry tanaman karet muda. Skripsi. Jember (ID): Universitas Jember.

Rosyid MJ. 2007. Pengaruh tanaman sela terhadap pertumbuhan karet pada areal peremajaan partisipatif di Kabupaten Sarolangun, Jambi. J Penelit Karet. 25(2):25-36.

Rosyid MJ, Wibawa G, Gunawan A. 2012. Saptabina usahatani karet rakyat: Pola usahatani karet. Palembang (ID): Balai Penelitian Sembawa.

Sahuri, Rosyid MJ. 2015. Analisis usahatani dan optimalisasi pemanfaatan gawangan karet menggunakan cabai rawit sebagai tanaman sela. Warta Perkaretan. 34(2):77-88.

Sahuri, Cahyo AN, Nugraha IS. 2016. Pola tumpangsari karet-padi sawah pada tingkat petani di lahan pasang surut, Sumatera Selatan. Warta Perkaretan 35(2):107-120.

Sahuri. 2017a. Pengaturan pola tanam karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) untuk tumpang sari jangka panjang. J Ilmu Pertan Indones. 22(1):443-462.

Sahuri. 2017b. Uji adaptasi sorgum manis sebagai tanaman sela di antara tanaman karet belum menghasilkan. J Penelit Karet. 35(1):23 – 38.

Sahuri. 2017c. Pengaruh tanaman sela sorgum manis terhadap pertumbuhan tanaman karet belum menghasilkan. J Agroteknol. 8(1):1- 10.

Sari HFM, Rahayu B. 2013. Jenis-jenis gulma yang ditemukan di perkebunan karet (Hevea brasiliensis Roxb.) Desa Rimbo Datar Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat. J Biogenesis. 1(1):28-32.

Sutoro. 2012. Kajian penyediaan varietas jagung untuk lahan suboptimal. Iptek Tanam Pangan. 7(2):108-115.

Syafrudin, Sopandie D, Trikoesoemaningtyas. 2006. Ketenggangan genotipe jagung (Zea mays L) terhadap cekaman aluminum. Bul Agron. 34(1):1-10.

Setiono, Sugiharto. 2008. Peningkatan produktivitas lahan marginal melalui. pengusahaan tanaman semusim berbasis karet. p. 417-422. Dalam: Supriadi M, Sagala AD, Siagian N, Kustyanti T, Rachmawan A (eds). Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Karet, Yogyakarta, 20-21 Agustus 2008. Bogor (ID): Pusat Penelitian Karet.

Sihono. 2009. Penampilan sifat agronomi galur mutan sorgum (Sorghum bicolor (L) Moench) di Kabupaten Bogor. J Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi. 5(1):31-42.

Snoeck D, Lacotea R, Kéli J, Doumbiac A, Chapuseta T, Jagoretd P, Goheta E.. 2013. Association of hevea with other tree crops can be more profitable than hevea monocrop during first 12 years. Industrial Crops and Products 43:578– 586.

Soekartawi A. 1995. Analisis usaha tani. Jakarta (ID): UI Press.

Sopandie D, Trikoesoemaningtyas, Sulistyono E, Heryani N. 2002. Pengembangan kedelai sebagai tanaman sela: Fisiologi dan pemuliaan untuk toleransi terhadap naungan. Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Jakarta (ID): Dirjen Dikti, Kementerian Pendidikan.

Sumarno, Mansyuri AG. 2007. Persyaratan tumbuh dan wilayah produksi kedelai di Indonesia. p. 74−103. Dalam: Sumarno, Suyamto, Widjono A, Hermanto, Kasim H (eds). Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

Tabri F, Zubachtirodin. 2013. Budi daya tanaman sorgum. Dalam: Sumarno, Damardjati DS, Syam M, Hermanto (eds). Inovasi Teknologi dan Pengembangan Sorgum. Jakarta (ID): IAARD Press.

Vijayakumar KR, Chandrasekhar TR, Varghese P. 2000. Agroclimate: In natural rubber. New Delhi (IN): Rubber Research of India.

Weifu L, Zhonyu Z, Shoufeng H. 1999. A review and prospect o intercropping in rubber plantation in China. J Ecol. 18(1):43-52.

Wibawa G, Rosyid MJ. 1995. Peningkatan produktivitas padi sebagai tanaman sela karet. Warta Perkaretan. 14(1): 40-46.

Wibawa G, Suryaningtyas H. 2001. Kombinasi optimal cara olah tanah dan tingkat pengapuran untuk pola tumpangsari jagung di antara karet pada tanah podzolik marah kuning. Bul Agron. 29(3):85-93.

Widiharto A. 2008. Potensi dan implementasi pengusahaan jagung tanaman jagung pada perkebunan karet. p. 273-279. Dalam: Supriadi M, Sagala AD, Siagian N, Kustyanti T, Rachmawan A (eds). Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Karet, Yogyakarta, 20-21 Agustus 2008. Bogor (ID): Pusat Penelitian Karet. Wijaksono RR, Navastara AM. 2012. Pengendalian perubahan pemanfaatan lahan tanian tanaman pangan di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. J Teknik ITS. 1(1):52-57.

Wijaya T. 2008. Kesesuaian tanah dan iklim untuk tanaman karet. Warta Perkaretan. 27(2):34–44.

Wirnas D. 2007. Pemilihan karakter seleksi berdasarkan analisis biometrik dan molekuler untuk merakit kedelai toleran intensitas cahaya rendah. Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana. Bogor (ID): Insitut Pertanian Bogor.

Xianhai Z, Mingdao C, Weifu L. 2012. Improving planting pattern for intercropping in the whole production span of rubber tree. African J Biotechnol. 11(34):8484-8490.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/akp.v15n2.2017.113-126

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Analisis Kebijakan Pertanian

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Kementerian Pertanian
Kawasan Penelitian Cimanggu
Jln. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks. (0251) 8314496
E-mail: akppsekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id