PENGEPEREMAJAAN KARET DAN MODEL PENGEMBANGAN TUMPANGSARI KARET BERKELANJUTAN DI INDOENSIA Replanting and Sustainable Development of Participatory Rubber Intercropping Modeling in Indonesia

Sahuri Sahuri, Iman Satra Nugraha

Abstract


Model tumpangsari karet partisipatif berkelanjutan merupakan salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh petani agar dapat bertahan dalam kondisi harga karet rendah saat ini. Tulisan ini membahas model tumpangsari karet partisipatif, implementasi model, kendala teknis pengembangan model, inovasi teknologi dan kelembagaan model, tantangan pengembangan model, dan perspektif kebijakan pengembangan model. Model tumpangsari karet partisipatif merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas usahatani karet rakyat melalui inisiasi dan partisipasi petani serta layak secara finansial. Model ini dapat meningkatkan pendapatan petani, produktivitas lahan dan dan produktivitas karet. Kendala teknis pengembangan model ini adalah naungan tajuk tanaman karet sehingga tidak dapat berkelanjutan dan produktivitas tanaman sela menurun. Diperlukan modifikasi jarak tanam karet melalui jarak tanam ganda sehingga dapat mengembangkan model ini dalam jangka panjang. Kendala sosial dan ekonomi dapat diatasi melalui model tumpangsari karet partisipatif dan didukung oleh kebijakan pemerintah dan kelembagaan partisipatif yang kuat. Tantangan pengembangan model ini pada skala yang lebih luas antara lain: sikap mental ketergantungan petani pada bantuan pemerintah; lemahnya koordinasi antarinstansi pemerintah dan nonpemerintah; dan tidak terjaminnya kontinuitas anggaran merupakan tantangan yang dapat mengganggu upaya mobilisasi partisipasi petani dan masyarakat untuk menjalankan program secara komprehensif. Selain itu, tantangan yang harus dihadapi untuk memperlancar pelaksanaan program model ini antara lain meningkatkan peran pemerintah, penyuluh, menyederhanakan birokrasi administrasi, dan mendapatkan komitmen yang kuat dari pimpinan eksekutif dan legislatif  di daerah secara menyeluruh dan konsisten yang didukung oleh lembaga penelitian, penyuluh pertanian, dan lembaga keuangan daerah. Perspektif kebijakan pemerintah diperlukan untuk mendukung dan penyangga harga karet dan tanaman ekonomis lainnya di tingkat usahatani melalui penguatan kelembagaan ekonomi seperti lembaga pengolahan hasil, penyimpanan, dan pemasaran. Diperlukan juga dukungan bimbingan teknis dan pendampingan manajemen model usahatani ini untuk mempercepat adopsi teknologi. Secara sosial diperlukan diseminasi teknologi untuk mengetahui tingkat adaptasi teknologi di tingkat petani sehingga mempermudah petani dalam melaksanakan sistem usahataninya.

 

ABSTRACT

Sustainable of participatory rubber intercropping model is one strategy that can be carried out by farmers in order to survive in the current low rubber price condition. In according with this issue, participatory rubber intercropping models, model implementation, technical constraints of model development, technological innovation and institutional models, challenges to the development of models, and implications of model policies are discussed. The participatory rubber intercropping model is one of the strategies to increase the productivity of smallholder rubber farming through the initiation and participation of farmers and is financially feasible. This model can increase farmers' income, land productivity and rubber productivity. Technic obstacle the development of rubber intercropping model was rubber canopy shading so that it cannot be sustainable and rubber intercrops productivity decreases. In according needed to modify rubber spacing to extend the period of intercrops cultivation. Social and economic constraints can be overcome through a participatory rubber intercropping model and supported by strong government policies and participatory institutions. The challenges of developing this model on a broader scale include: the mental attitude of farmers' dependence on government assistance; weak coordination between government and non-government agencies; and not guaranteeing budget continuity are challenges that can disrupt efforts to mobilize farmers and community participation to carry out comprehensive programs. In addition, challenges that must be faced to expedite the implementation of this model program include increasing the role of government, extension workers, simplifying administrative bureaucracy, and obtaining strong commitments from executive and legislative leaders in the region as a whole and consistently supported by research institutions, agricultural extension workers, and regional financial institutions. The government policy perspective is needed to support and support the price of rubber and other economic crops at the farm level through strengthening economic institutions such as processing, storage and marketing institutions. There is also a need for technical guidance and management assistance for this model to accelerate technology adoption. Socially necessary technology dissemination to determine the level of technological adaptation at the farm level so that farmers make it easier to implement this systems.

 


Keywords


Hevea brasiliensis, karet rakyat, partisipatif, tumpangsari karet, model berkelanjutan /Hevea brasiliensis, smallholders rubber, partisipative,rubber intercropping, sustainable model /

Full Text:

PDF

References


Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Statistik Karet Indonesia 2016. Jakarta, Indonesia. 125 hal. https://www.bps.go.id/publication/2017/11/10/d4d7e522ff58f8197cfd40e4/statistik-karet-indonesia-2016.html. [10 Oktober 2018].

Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). 2017. Statistik Perkebunan Karet Indonesia 2013-2015. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Jakarta. 50 hlm. Diakses dari http://ditjenbun.pertanian.go.id. [4 Oktober 2018].

Ferry, Y., D. Pranowo dan Rusli. 2013. Pengaruh tanaman sela terhadap pertumbuhan tanaman karet muda pada sistem penebangan bertahap. Buletin RISTRI 4 (3): 225-230.

Fikriati, M. 2010. Uji Daya Hasil Lanjutan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Toleran Naungan Di Bawah Tegakan Karet Rakyat di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Skripsi Institut Pertanian Bogor, Indonesia. 75 hlm.

Hendratno, S., dan M. Supriadi. 2011. Peningkatan produktivitas kebun melalui peremajaan dan penanaman klon karet unggul . Prosiding Lokakarya Karet Nasional 2011. Jakarta, Indonesia: Pusat Penelitian Karet.

Hendratno, S., S. Woelan, dan M.I. Fathurrohman. 2015. Analisis kelayakan finansial model peremajaan karet partisipatif: sumber pembiayaan dari hasil penjualan kayu karet. Warta Perkaretan 34(1): 55-64.

Khaswarina, S., dan Eliza. 2018. Analisis keberlanjutan perkebunan karet di Pulau Sarak Kabupaten Kampar Riau. Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora 20(1): 65 - 69.

Marwoto, A. Wijanarko dan Subandi. 2008. Prospek pengusahaan tanaman kedelai di perkebunan karet. p. 280-293. Dalam M. Supriadi, A.D. Sagala, N. Siagian, T. Kustyanti, A. Rachmawan (Ed.). Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Karet, Yogyakarta, 20-21 Agustus 2008. Pusat Penelitian Karet, Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Ogwuche, P., H.Y. Umar, T.U. Esekhade, S.Y. Francis. 2012. Economies of intercropping natural rubber with arable crops: a panacea for poverty alleviation of rubber farmers. Journal of Agriculture Social Science (8): 100–102.

Pansak, W. 2015. Assessing Rubber Intercropping Strategies in Northern Thailand Using the Water, Nutrient, Light Capture in Agroforestry Systems Model. Kasetsart Journal (49): 785794.

Pathiratna, L. S.S dan M.K.P. Perera. 2006. Effect of competition from rubber on the yield of intercropped medicinal plants Solatium virginianum Schrad., Aerva lanata (L.) Juss. Ex. Schult and Indigofera tinctoria L. Journal of the Rubber Research Institute of Sri Lanka (87): 36-45.

Pathiratna, L.S.S. 2006. Management of intercrops under rubber: implications of Competition and possibilities for improvement. Bulletin of the Rubber Research Institute of Sri Lanka (47): 8-16.

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian (Pusdatin Kementan). 2017. Outlook Karet. Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian. Jakarta, Indonesia. 68 hal. http://epublikasi.setjen.pertanian.go.id/epublikasi/outlook/2015/Perkebunan/Outlook%20Karet%202015/files/assets/common/downloads/Outlook%20Karet%202015.pdf. [10 Oktober 2018].

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Perindustrian (Pusdatin Kemenperin). 2019. Laporan Analisis Perkembangan Industri Edisi I 2019. Jakarta, Indonesia. 51 hal. https://kemenperin.go.id/download/21653/Laporan-Analisis-Perkembangan-Industri-Edisi-I-2019.pdf. [17 Desember 2019].

Raintree, J. 2005. Intercropping with rubber for risk management, improving livelihoods in the Lao PDR. Agriculture and Forestry Research (2): 41-46.

Rinojati, N.D., R. C. Putra, E. Afifah, dan I. Muliawansyah. 2016. Analisis Efisiensi Usahatani Pisang di antara Tanaman Karet: Studi Kasus di Kebun Cibungur, PTPN VIII Jawa Barat. Warta Perkaretan, 35 (1): 37-48.

Rodrigo, V.H.L., C.M. Stirling, Z. Teklehaimanot and A. Nugawela. 2001. Intercropping with banana to improve fractional interception and radiation-use efficiency of immature rubber plantations. Field Crops Research (69): 237-249.

Rodrigo, V.H.L., T.U.K. Silva and E.S. Munasinghe. 2004. Improving the spatial arrangement of planting rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) for long-term intercropping. Field Crops Research 89(2): 327-335.

Rodrigo, V.H.L., C.M., Stirling, T.U.K. Silva and P.D. Pathirana. 2005. The growth and yield of rubber at maturity is improved by intercropping with banana during the early stage of rubber cultivation. Field Crops Research 91(1): 23–33.

Rosyid, M.J. 2007. Pengaruh tanaman sela terhadap pertumbuhan karet pada areal peremajaan partisipatif di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Jurnal Penelitian Karet, 25(2): 25-36.

Rosyid, M.J., G. Wibawa, dan A. Gunawan. 2014. Saptabina Usahatani Karet Rakyat : Pola Usahatani Karet Edisi ketujuh. Palembang, Indonesia: Balai Penelitian Sembawa.

Sahuri dan M.J. Rosyid. 2015. Analisis usahatani dan optimalisasi pemanfaatan gawangan karet menggunakan cabai rawit sebagai tanaman sela. Warta Perkaretan 34(2): 77-88.

Sahuri, A.N. Cahyo dan I.S. Nugraha. 2016. Pola tumpangsari karet-padi sawah pada tingkat petani di lahan pasang surut, Sumatera Selatan. Warta Perkaretan 35(2): 107-120.

Sahuri. 2017a. Pengaturan pola tanam karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) untuk tumpang sari jangka panjang. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 22 (1): 2443-3462.

Sahuri. 2017b. Uji adaptasi sorgum manis sebagai tanaman sela di antara tanaman karet belum menghasilkan. Jurnal Penelitian Karet 35(1): 23 – 38.

Sahuri. 2017c. Peningkatan produktivitas lahan dan pendapatan petani melalui tanaman sela pangan berbasis karet. Jurnal Lahan Suboptimal 6(1): 33-42.

Sahuri. 2017d. Pengaruh tanaman sela sorgum manis terhadap pertumbuhan tanaman karet belum menghasilkan. Jurnal Agroteknologi 8(1): 1- 10.

Sahuri. 2017e. Pengembangan tanaman jagung (zea mays l.) di antara tanaman karet belum menghasilkan. Analisis Kebijakan Pertanian 15(2): 113-126.

Santoso, A. 2016. Pengembangan karet di indonesia antara harapan dan kenyataan. Jurnal Ilmu dan Budaya 40(52): 5935-5952.

Sigar, P. dan M.D. Rahadian. 2008. Nilai ekonomis komoditas jagung sebagai tanaman perkebunan. p. 257-272. Dalam M. Supriadi, A.D. Sagala, N. Siagian, T. Kustyanti, A. Rachmawan (Ed.). Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Karet, Yogyakarta, 20-21 Agustus 2008. Pusat Penelitian Karet, Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Singapore Commodity Exchange Limited (SICOM). 2018. Market Information. Diakses dari www.sgx.com. [10 Oktober 2018].

Snoeck, D., R. Lacotea, J. Kéli, A. Doumbiac, T. Chapuseta, P. Jagoretd, É. Goheta. 2013. Association of hevea with other tree crops can be more profitable than hevea monocrop during first 12 years. Industrial Crops and Products (43): 578– 586.

Supriadi. 2008. Model peremajaan karet partisipatif : perkembangan dan tantangan penerapannya. Warta Perkaretan. 24(1): 1-13.

Syarifah, L.F., D.S. Agustina, C. Nancy, dan M. Supriadi. 2012. Evaluasi tingkat adopsi klon unggul di tingkat petani karet propinsi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet, 30(1), 12-22.

Syarifah, L.F., D.S. Agustina, C. Nancy, dan M. Supriadi. 2016. Dampak rendahnya harga karet terhadap kondisi sosial ekonomi petani karet di Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Karet. 34 (1): 119-126.

Tistama, R., C. I. Dalimunthe., Y. R. V. Sembiring., I. R. Fauzi., R.D. Hastuti dan Suharsono. 2016. Tumpangsari sorgum dan kedelai untuk mendukung produktivitas lahan TBM karet (Hevea brasiliensis Muell Arg). Jurnal Penelitian Karet, 34 (1) : 61-76

Widiharto, A. 2008. Potensi dan implementasi pengusahaan jagung tanaman jagung pada perkebunan karet. p. 273-279. Dalam M. Supriadi, A.D. Sagala, N. Siagian, T. Kustyanti, A. Rachmawan (Ed.). Prosiding Lokakarya Nasional Agribisnis Karet, Yogyakarta, 20-21 Agustus 2008. Pusat Penelitian Karet, Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Wijaya, T. 2008. Kesesuaian tanah dan iklim untuk tanaman karet. Warta Perkaretan 27 (2): 34–44.

Wirnas, D. 2007. Pemilihan Karakter Seleksi Berdasarkan Analisis Biometrik dan Molekuler untuk Merakit Kedelai Toleran Intensitas Cahaya Rendah. Disertasi. SekolahPasca Sarjana. Insitut Pertanian Bogor.Bogor. 78 hlm.

Xianhai, Z., C. Mingdao dan L. Weifu. 2012. Improving planting pattern for intercropping in the whole production span of rubber tree. African Journal of Biotechnology 11(34): 8484-8490.

Xiongfei, Y dan P. Nengfa. 2004. Intercropping patterns and their development in rubber plantations in Dehong District, Yunnan, China. p. 183-187. In C. Qiubo, Z. Jiannan, and Weifu L (Eds.). Proceedings of IRRDB Symposium 2004. China Agricultur Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/psp.v18n2.2019.87-90

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2019 Perspektif

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Jln. Tentara Pelajar No 1, Kampus Penelitian Cimanggu
Bogor 16111

ISSN : 1412-8004

E-ISSN: 2540-8240

Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri has been indexed by