EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN PERLUNYA PERBAIKAN KEBIJAKAN PENATAAN RUANG/ Palm Oil Expansion and Requirement Spatial Planning Policy Improvement

Andi Ishak, Rilus A. Kinseng, Satyawan Sunito, Didin S Damanhuri

Abstract


ABSTRAK

 

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan komoditas penting bagi perekonomian Indonesia karena menjadi sumber pendapatan negara dan penyedia lapangan kerja yang cukup signifikan. Indonesia menjadi pengekspor minyak sawit terbesar dunia saat ini dengan luas perkebunan lebih dari 10 juta hektar dan melibatkan sekitar 16 juta tenaga kerja. Ekspansi perkebunan kelapa sawit disebabkan oleh kesesuaian agroklimat, permintaan global, dan dukungan kebijakan pemerintah. Kelapa sawit berpotensi dikembangkan pada lahan seluas 51,4 juta hektar dan telah dibudidayakan pada 22 provinsi di Indonesia, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kelapa sawit mampu menghasilkan minyak nabati 4-23 kali lebih banyak dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya serta dimanfaatkan secara luas untuk bahan baku industri pangan dan non pangan di seluruh dunia. Dukungan kebijakan pemerintah telah mendorong investasi swasta masuk dalam industri kelapa sawit dan melakukan ekspansi perkebunan secara besar-besaran dalam tiga dekade terakhir. Ekspansi perkebunan kelapa sawit berdampak positif pada kondisi sosio-ekonomi masyarakat pedesaan. Pembangunan perkebunan swasta mendorong konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit rakyat, perubahan pola nafkah petani, dan migrasi tenaga kerja ke daerah-daerah perkebunan sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat dan mempercepat pembangunan wilayah. Namun ekspansi perkebunan kelapa sawit yang tidak terkendali telah berdampak negatif karena menyebabkan konflik agraria, deforestasi, dan kebakaran hutan yang memicu kabut asap. Kebijakan pemerintah terkait moratorium sawit yang dilakukan secara simultan dengan penataan ruang menjadi relevan untuk mencegah semakin luasnya dampak negatif akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit.

Kata kunci: Kelapa sawit, dampak, moratorium, kebijakan spasial.

 

ABSTRACT

Palm oil (Elaeis guineensis Jacq) is an important commodity for the Indonesian economy as it becomes a significant source of state income and employment providers. Indonesia is the world's largest palm oil exporter today with a plantation area of more than 10 million hectares and involves about 16 million workers. The expansion of oil palm plantations is due to the suitability of agro-climate, global demand, and government policy support. Oil palm has the potential to be developed on an area of 51.4 million hectares and has been cultivated in 22 provinces in Indonesia, mainly on the islands of Sumatra and Kalimantan. Palm oil is able to produce vegetable oil 4-23 times more than other vegetable-producing crops and widely used for food and non-food industry raw materials worldwide. Government policy support has encouraged private investment into the palm oil industry and expanded large-scale plantations in the past three decades. The expansion of oil palm plantations has a positive impact on the socio-economic conditions of rural communities. The development of private plantations encourages land conversion to smallholder oil palm plantations, changes in farmers' livelihood patterns, and labor migration to plantation areas that increase community incomes and accelerate regional development. But the uncontrolled expansion of oil palm plantations has had a negative impact as it causes agrarian conflicts, deforestation, and forest fires that trigger haze. Government policies related to the palm oil moratorium simultaneously conducted with spatial arrangement become relevant to prevent the increasing extent of the negative impact due to the expansion of oil palm plantations.

Keywords: Palm oil, impact, moratorium, spatial policy.


Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Bank Dunia. 2014. Indonesia: Menghindari Perangkap. World Bank. Jakarta. 174 pp.

BPS. 2014. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2014. BPS. Jakarta. 75 pp.

Buana, L., D. Siahaan, dan S. Adiputra. 2003. Modul M-100-203. Kultur Teknis Kelapa Sawit – Penilaian Kesesuaian Lahan, Disain Kebun dan Pembukaan Lahan. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan. Hal:1-9.

Colchester, M. dan S. Chao. 2011. Ekspansi Kelapa Sawit di Asia Tenggara: Suatu Tinjauan. Dalam M. Colchester dan S. Chao (ed). Ekspansi Kelapa Sawit di Asia Tenggara: Kecenderungan dan Implikasi bagi Masyarakat Lokal dan Masyarakat Adat. Bogor: Sawit Watch. p 17-42.

Corley, R.H.V. dan P.B. Tinker. 2016. World Agriculture Series – The Oil Palm. Fifth Edition. Wiley Blackwell. United Kingdom. 674 pp.

Ditjenbun. 2014. Statistik Perkebunan Indonesia 2013-2015 – Kelapa Sawit. Ditjenbun. Jakarta. 86 pp.

Fauzi, Y., Y.S. Widyastuti, I. Setyawibawa, dan R.H. Paeru. 2012. Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta. 234 pp.

GAPKI. 2014. Industri Minyak Kelapa Sawit Indonesia menuju 100 tahun NKRI – Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan secara Berkelanjutan. GAPKI. Jakarta. 265 pp.

Gillespie, P. 2012. Participation and Power in Indonesian Oil Palm Plantations. Asia Pacific Viewpoint 53(3):254-271.

GPOC. 2015. An Overview of the Palm Oil Sector: Countries and Companies. Global Palm Oil Conference – Bogota, 12-13 Maret, 2015. http://www.iuf.org/w/sites/default/files/Palm%20Oil%20Background%20document.pdf. [16 Januari 2016].

Harper, L.H. 1989. Exploring Social Change. Prentice Hall. New Jersey-USA. 332 pp.

Hidayat A. 2007. Peta Kesesuaian Lahan dan Peta Arahan Tata Ruang Pertanian.Warta Sumberdaya Lahan 3(3):10-17.

IPAC. 2014. Indigenous Rights vs Agrarian Reform in Indonesia: a Case Study from Jambi. IPAC Report 9:1-28.

Julia dan B. White. 2012. Gendered Experinces of Dispossession: Oil Palm Expansion in a Dayak Hibun Community in West Kalimantan. The Journal of Peasant Studies 39:995-1016.

Kausar dan Zaman K. 2011. Analisis Hubungan Patron-Klien (Studi Kasus Hubungan Toke dan Petani Sawit Pola Swadaya di Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu). Indonesian Journal of Agricultural Economics 2(2):183-200.

Kartodirdjo, S. dan Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia: Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media. Yogyakarta. 198 pp.

Kementan. 2014. Statistik Lahan Pertanian Tahun 2009-2013. Kementerian Pertanian. Jakarta. 185 pp.

KPPU. 2007. Evaluasi Kebijakan Perkebunan Kelapa Sawit. http://www.kppu.go.id/docs/ Positioning_Paper/sawit.pdf. [8 Desember 2014].

Lubis, R.E. dan A. Widanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. 296 pp.

McCarthy, J.F., P. Gillespie, dan Z. Zen. 2012. Swimming Upstream: Local Indonesian Production Networks in “Globalized” Palm Oil Production. World Development 40/3(555-569).

Mulyani, A., F. Agus, dan A. Adi. 2003. Kesesuaian Lahan untuk Kelapa Sawit di Indonesia. Prosiding Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. p 89-102.

Pahan, I. 2007. Panduan Lengkap Kelapa Sawit – Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta. 424 pp.

Pichler M. 2015. Legal Dispossession: State Strategies and Selectivities in the Expansion of Indonesian Palm Oil and Agrofuel Production. Development and Change 46(3):508-533.

Pye, O. 2009. Palm Oil as a Transnational Crisis in South-East Asia. Austrian Journal of South East Asian Studies 2(2):81-201.

Ramdani, F. dan M. Hino. 2013. Land Use Changes and GHG Emissions from Tropical Forest Conversion by Oil Palm Plantations in Riau Province, Indonesia. PLOS ONE 8(7):1-6.

Rawi, D.F.A., P. Hariyadi, dan S. Budijanto. 2004. Kajian Hidrolisis Enzimatis Minyak Sawit secara In Situ. Forum Pascasarjana 27(2):135-143.

Rist, L., L. Feintrenie, dan P. Levang. 2010. The Livelihood Impact of Oil Palm: Smalholders in Indonesia. Biodivers Conserv 19:1009-1024.

Saragih, J.G. 2012. Cap Buruk Perkebunan Sawit berasal dan berakhir di Penataan Ruang. http://sawitwatch.or.id/2012/06/cap-buruk-perkebunan -sawit-berawal-dan-berakhir-di-penataan-ruang/. [17 September 2015].

Sawit Watch. 2008. RSPO itu hanyalah Satu Ruang saja, Bukan Berbagai Ruang. Buletin Tandan Sawit 2(8):3-5.

Semedi, P. 2014. Palm Oil Wealth and Rumour Panics in West Kalimantan. Forum for Development Studies 41(2):233-252.

Sheil, D., A. Casson, E. Meijaard, M. von Noordwijk, J. Gaskell, J. Sunderland-Groves, K. Wertz, dan M. Kanninen. 2009. The Impacts and Opportunities of Oil Palm in Southeast Asia – What do We Know and What do We Need to Know? Occasional Paper No. 51. Center for International Forest Research (CIFOR). Bogor. 67 pp.

SPI. 2011. 100 Tahun Industri dan Perkebunan Sawit di Indonesia “Saatnya Memajukan Kepentingan Nasional dan Kesejahteraan Rakyat Tani”. Policy Paper. SPI. Jakarta. 23 pp.

Surip, N. 2006. Perkembangan Industri Minyak Sawit Indonesia. Jurnal Ilmu dan Budaya. 27(1):15-24.

Syahadat, E. dan Subarudi. 2012. Permasalahan Penataan Ruang Kawasan Hutan dalam rangka Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan 9(2):131-143.

Syahza, A. 2011. Percepatan Ekonomi Pedesaan melalui Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit. Jurnal Ekonomi Pembangunan 12(2):297-310.

Sztompka, P. 2010. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenada. Jakarta. 384 pp.

Yulianto, H.E. 2010. Perubahan Struktur Sosial dan Kepemimpinan Lokal Masyarakat Akibat Masuknya Perkebunan Kelapa Sawit di Desa Semuntai Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Pembangunan 1(7):39-46.

Zulkifli, A.N. 2015. Refleksi 21 Tahun AFTA dan Tantangan Commodity Bust. Jurnal Hubungan Internasional 8(2):1-16.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/psp.v16n1.2017.%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2017 Perspektif

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Jln. Tentara Pelajar No 1, Kampus Penelitian Cimanggu
Bogor 16111

ISSN : 1412-8004

E-ISSN: 2540-8240

Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri has been indexed by