Peningkatan Pendapatan Usahatani Kenaf Melalui Perbaikan Teknologi di Lahan Rawa Musiman (Bonorowo)

BUDI SANTOSO

Abstract


Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) merupakan tanaman penghasil serat alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk karung goni, door trim, fibre drain, geoteksil, bubur ketas (pulp) dan kerajinan rumah tangga yang ramah lingkungan. Perusahaan swasta yang berada di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur telah mengembangkan kenaf untuk diambil seratnya. Produk yang dihasilkan dari perusahaan tersebut adalah door trim, inteior mobil. Usahatani di lahan rawa musiman (bonorowo), sebelum ditemukan kenaf dan sejenisnya hanya dilakukan satu kali saja. Penanaman padi dilakukan pada awal bulan Pebruai setelah banjir mulai surut dan berakhir pada bulan Juni. Pada musim berikutnya, bulan Juli sampai dengan Oktober keadaan lahan hero, karena musim kemarau dan lahan keing. Bilamana dipaksakan ditanami padi lagi air idak mencukupi dan resiko kegagalan tinggi. Bulan Nopember sampai dengan Januai musim penghujan iba dan lahan dalam keadaan banjir, sehingga bero masih berlanjut. Dengan sisa waktu 3 bulan yaitu Juli-September, tanaman kenaf dapat diusahakan. Pada permulaannya kenaf ditanam secara monokultur, kemudian berubah menjadi tumpangsai jagung dan kenaf. Kenaf yang ditanam di lahan bonorowo adalah varietas Hc.48. Kelemahan dai vaietas He. 48 yaitu peka terhadap fotopeiodisitas dan sudah mengalami degradasi produksi. Balittas telah melepas vaietas-vaietas baru seperti Kr. 6; Kr. 7; Kr. 8 ; Kr. 9 dan Kr. 11 dan pada musim tanam 1999/2000 vaietas lama yang digunakan sudah diganti. Kelebihan dai varietas-vaietas baru kenaf tersebut yaitu kurang peka terhadap fotopeiodisitas dan mempunyai tingkat produkivitas yang tinggi (2,5 - 3,0 ton/ha). Pendapatan usahatani tumpangsai jagung (Arjuno) dan kenaf (Kr. 6) lebih tinggi dibanding dengan monokultur kenaf ataupun jagung. Hasil analisis pendapatan usahatani tumpang¬ sari jagung dan kenaf dapat mencapai Rp. 2.906.750,-/ ha. Sedang monokultur jagung dan kenaf masing-masing hanya menghasilkan pendapatan usahatani sebesar Rp. 1.173.250,- dan 1.776.000,- /ha.

Kata kunci: Kenaf, Hibiscus cannabinus, jagung, usahatani, tumpangsai, monokultur, bonorowo.

 

ABSTRACT

Improving the income of Kenaf farming through improving the technology for flooded land

Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) is a natural fiber producer. The fiber is used as mateial for bast fiber, door trim, fiber drain, geotexile, pulp and home industry. A pivate company locaed in Pasuruan Distict, East Java has developed kenaf to produce the natural fiber. The products are door trim and car inerior. Before kenaf was found, there was only one farming system in floded land in a year. Rice was planed early in February when the flood decreased and it finished in June. The next season, July to October the land was not used for plantation because it is dry season and the land is lack of waer. Planting ice in this season is isky because the waer stock is not enough to waer the ice plant. The ainy season comes in November to January, the land can not used for planing, because the land is flooded. The rest of the months can be used for kenaf plantaion (July-Sepember). Previously kenaf was planted in monoculture sysem, laer it is inercropped with corn. Beside geting income from kenaf fiber, the farmers also got it from corn plantaion. Corn was harvested first then kenaf. Kenaf that was planted in flooded land was He. 48. The weaknes of He. 48 vaiety was sensitive to photopeiode and its producivity was degraded. Therefore, the Research Cener for Tobacco and Fiber Crops released new vaieies, Kr. 6; Kr. 7; Kr. 8; Kr. 9 and Kr. 11. So that, in the planting season of 1999/2000 the small holder bast fiber inensificaion used the new vaieies. The new vaieies wee not sensitive to photoperiode and had high producivity (2.5 up to 3 tons per ha). These vaieties can be intercroped with corn. The inercropping of kenaf (Kr.6) with corn (Arjuna) produced higher yield compared to that of kenaf or corn monoculture sysem. The results of the analysis is that kenaf and corn intercropping can each Rp. 2,906,750 per ha. While corn and kenaf monoculture sysem can each Rp. 1,173,250 and Rp. 1,776, 000 per ha respecivelly.

Key words : Kenaf, Hibiscus cannabinus, corn, farming sysem, intercropping, monoculture, flooded land


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/p.v3n1.2004.1-14

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Perspektif

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Jln. Tentara Pelajar No 1, Kampus Penelitian Cimanggu
Bogor 16111

ISSN : 1412-8004

E-ISSN: 2540-8240

Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri has been indexed by