Penanda DNA Untuk Pemuliaan Tanaman Kelapa (Cocos nucifera L.)

DONATA S. PANDIN

Abstract


ABSTRAK

Kegiatan pemuliaan pada tanaman kelapa merupakan proses   yang   sangat   lama   dan   mahal.   Pemuliaan tanaman kelapa di Indonesia telah dilakukan melalui eksplorasi,   koleksi,   dan   hibridisasi.   Inventarisasi populasi kelapa yang dilakukan oleh COGENT, CGR (The  International  Coconut  Genetic  Resources  Network, Coconut Genetic Resources) dari 17 negara, dilaporkan sebanyak 936 populasi dan 105 populasi diantaranya berasal dari Indonesia atau setara dengan 11.22% dari seluruh   populasi   kelapa   di   dunia   yang   telah dilaporkan.   Beberapa   dari   koleksi   yang   ada   di BALITKA telah digunakan sebagai materi persilangan baik antara kelapa Genjah dengan Dalam, maupun kelapa  Dalam  dengan  Dalam.  Dari  koleksi  plasma nutfah kelapa tersebut, telah berhasil dilepas sebagai Kelapa unggul sebanyak 15 varietas kelapa Dalam, 4 varietas kelapa Genjah, dan 5 varietas kelapa Hibrida. Kemajuan dibidang genetika terutama pada penanda DNA  telah  banyak  merubah  pola  penelitian  pada disiplin   ilmu   genetika   dan   pemuliaan   tanaman. Ditemukan banyak penggunaan penanda DNA dalam pemuliaan  tanaman.  Beberapa  penanda  DNA  yang telah digunakan pada tanaman kelapa adalah  analisis variasi   genetik,   evolusi/migrasi   tanaman   kelapa, keterpautan gen tertentu terhadap karakter spesifik, penelusuran tetua, dan analisis lokus-lokus karakter kuantitatif dengan menggunakan Restriction Fragment Length   Polymorphism                  (RFLP),   Random   Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP),  dan  mikrosatelit  atau  Simple Sequence   Repeat (SSR).  Saat  ini   BALITKA   sedang melakukan penelitian untuk mengidentifikasi fragmen DNA   sebagai   penanda   sifat   kopyor,   klarifikasi kandidat penanda sifat produksi buah pada kelapa Dalam Mapanget, dan identifikasi penanda tanaman tahan terhadap P. palmivora.   Pemanfaatan penanda DNA akan menghemat waktu dan tenaga kerja karena pengujian yang dilakukan pada tingkat DNA tidak dopengaruhi  oleh lingkungan  tumbuh.  Keuntungan lainnya adalah jumlah benih, bibit, atau galur yang dibutuhkan untuk pengujian dapat dikurangi, karena banyak  yang  sudah  tidak  terpilih  setelah  seleksi dengan  penanda  DNA  pada  tahap  awal  generasi, sehingga  desain  pemuliaan  lebih  efektif.  Efisiensi paling  besar  adalah  seleksi  terhadap  sifat  spesifik (target) akan lebih cepat karena seleksi berdasarkan genotif   spesifik   lebih   mudah   diidentifikasi   dan diseleksi.

Kata kunci : Cocos nucifera, pemuliaan, RFLP, RAPD,   mikrosatelit (SSR)

 

ABSTRACT

DNA Marker in Coconut Breeding Programm

Coconut plant breeding activities in Tall coconut is a very  long  and   expensive   process.   Coconut  plant breeding  in  Indonesia  has  been  done  through  the exploration,                 collection,             and         hybridization. Inventarization of coconut populations conducted by the COGENT, CGR (The International Coconut Genetic Resources Network, the Coconut Genetic Resources) from 17 countries, reported as many as 936  population and 105 of the population of which originated from Indonesia or equal to 11:22% of the entire population of the  world's  coconut  has  been  reported  .  Some  of existing  collections  in  BALITKA  has  used  as  the material crosses between dwarf and tall coconut. From the   collection   of   coconut   germplasm,   we   have successfully  released  as  much  as 15   varieties  of superior Tall coconut palm, 4 Dwarf coconut varieties, and five varieties of hybrid coconuts. Progress in the genetics  field,  especially  on  the  DNA  marker  has changed  the  pattern  of  research  in  disciplines  of genetics and plant breeding. A lot of DNA markers in plant breeding had found and used. Several DNA markers that have been used on the coconut crop are to analyze genetic variation, the evolution / migration of coconut plantations, mapping of specific genes related to specific characters, parental analysis, and analysis of quantitative trait loci using Restriction Fragment Length polymorphism (RFLP), the Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD), Amplified Fragment Length polymorphism (AFLP), and of micro-satellite or Simple Sequence Repeat (SSR). BALITKA currently doing research to identify DNA   fragments   as   a   marker   kopyor   properties, clarification of the nature of the candidate marker of fruit   production   in   coconut   In   Mapanget,   and identification  markers  P.  palmivora  resistant  plants. Utilization of DNA markers will save time and labour because the tests conducted at the DNA level is not influenced by environmental. Another advantage is the number  of  seeds,  seedlings,  or  strain  required  for testing can be reduced, because many of them had not elected after selection by DNA marker generation in the  early  stages,  so  the  breeding  design  is  more effective. Greatest efficiency is the selection of specific characters will be faster because the selection based on specific genotype is more easily identified and selected.

Keywords:  Cocos  nucifera,  breeding,  RFLP,  RAPD, micro-satellite (SSR)


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/p.v9n1.2010.%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2015 Perspektif

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
Jln. Tentara Pelajar No 1, Kampus Penelitian Cimanggu
Bogor 16111

ISSN : 1412-8004

E-ISSN: 2540-8240

Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri has been indexed by