Lahan Bekas Tambang Timah di Pulau Bangka dan Belitung, Indonesia dan Kesesuaiannya untuk Komoditas Pertanian (Ex-mining land in Bangka and Belitung Islands, Indonesia and their suitability for agricultural commodities)

nFN Sukarman, Rachmat Abdul Gani

Abstract


Abstrak: Penambangan timah di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan sistem terbuka dengan mengeruk dan merusak tanah lapisan atas sehingga mempengaruhi kesesuaian lahan untuk pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik tanah dan biofisik lahan di areal bekas tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung serta menilai kesesuaiannya untuk tanaman pertanian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2016 dengan metode survei dan pemetaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan bekas tambang di kedua pulau tersebut seluas 125.875 ha. Telah terjadi perubahan bentang lahan, yaitu dengan terbentuknya kolong dan timbunan hasil galian. Timbunan galian dibagi menjadi: (1) Tanah galian bagian atas (tanah pucuk), merupakan campuran antara horison A, B dan horison C tanah asli, (2) Tanah galian bagian bawah berasal dari horison C tanah asli, (3) Tailing berupa pasir kuarsa dan sisa pencucian biji timah, dan (4) Campuran tailing dan galian bagian bawah. Tailing dicirikan oleh tekstur kasar dan kandungan hara yang sangat rendah. Tanah pucuk relatif lebih baik dicirikan oleh tekstur sedang sampai agak kasar, dan kandungan C-organik serta hara paling tinggi dibandingkan bagian lainnya. Logam berat yang ditemukan adalah Cu, Pb, Cd, dan Hg. Tanah galian bagian bawah mengandung logam berat paling tinggi, namun kandungan tersebut tergolong sangat rendah dan dalam batas yang aman. Sebagian besar lahan bekas tambang tergolong kelas N1 (tidak sesuai saat ini) karena lahan sudah mengalami degradasi berat. Masukan yang diberikan harus tinggi, agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh secara optimal.

Abstract. Tin mining in Indonesia is generally done with an open system by dredging and damaging the topsoil, and hence it changes land suitability. The purpose of this research is to study soil and biophysical characteristics of land in ex-tin mining area in Bangka and Belitung Islands and assess its suitability for agricultural crops. The study was conducted from March to May 2016 with survey and land mapping methods. The results showed that the area of ex-mining land on both islands was 125,875 ha. There has been tremendous changes of the landscape, with the formation of small lakes (voids) and pile of excavation. Heaps of the excavation are: (1) Top soil containing the mixture of horizons A, B and C of the original soil, (2) The bottom part which was derived from C horizon of the original soil, (3) Tailings of quartz sand resulted from washing separating the sand and the ore, and (4) Mixture of tailings and bottom part of soil excavation. Tailing is poorest in fertility and characterized by coarse texture and very low nutrient content. The ‘top soil’ layer is relatively better and characterized by moderate to slightly coarse textures, and the highest in organic and nutrient content than other parts. The heavy metals found were Cu, Pb, Cd, and Hg. The bottom part of excavation contains the highest heavy metals, but the content was within the acceptable limits. Land suitability assessment shows that most of the ex-mining land is classified as N1 (Currently Not Suitable) because the land has experienced severe degradation. The input should be high, so that the cultivated plants can grow optimally.

Keywords


lahan bekas tambang, karakteristik lahan, ex-mining lands, soil characteristics.

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Ashraf A, Maah MJ, Yusoff IB. 2010. Study of water quality and heavy metals in soil and water of ex-mining area Bestari Jaya, Peninsular Malaysia. International Journal of Basic & Applied Sciences IJBAS-IJENS Vol:10, No.03: 7-23.

Asmarhansyah, Subardja D. 2012. Perbaikan kualitas lahan bekas tambang timah Bangka Tengah melalui penggunaan tanah mineral dan pupuk organik. Dalam Wigena et al. (eds): Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Hlm 325-336. Bogor, 29-30 Juni 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Asmarhansyah. 2015. Charactaeristic of physical and chemical properties of former-tin mining areas for crop production in Bangka island. Dalam Rejekiningrum et al. (eds): Prosiding Nasional Sistem Informasi dan Pemetaan Sumberdaya Lahan Mendukung Swasembada Pangan. Hlm 181-190. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Budianta D, Gofar N, Andika GA. 2013. Improvement of sand tailing fertility derived from post tin mining using leguminous crop applied by compost and mineral soil. J Trop Soils, Vol. 18, No. 3 2013: 217-223

Dariah A, Abdurachman A, Subardja D. 2010. Reklamasi lahan eks-penambangan untuk perluasan areal pertanian. Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 4 No. 1 Juli 2010: 1-12..

Erwana F, Dewi K, Rahardyan B. 2015. Study of socio-economic and environment impacts of inconventional tin mining (A case study: West Bangka district of Bangka Belitung Province). The Third Joint Seminar of Japan and Indonesia Environmental Sustainability and Disaster Prevention (3rd ESDP-2015), Institut Teknologi Bandung, Indonesia – November 25th, 2015

Eviati, Sulaeman. 2012. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Edisi 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Fernández S, Poschenrieder C, Marcenò C, Gallego JR, Gámez DJ, Bueno A, Afif E. 2017. Phytoremediation capability of native plant species living on Pb-Zn and Hg-As mining wastes in the Cantabrian range, north of Spain. Journal of Geochemical Exploration Volume 174, pp 10–20, March 2017

Huang PM. 1989. Felspars, olivine, pyroxenes, and amphiboles. Pp. 945-105 In J.B. Dixon and S.B. Weed (Eds.). Minerals in Soil Environments. Soil. Sci. of Amer., Madison, Wisconsin, USA.

Inonu I. 2008. Pengelolaan lahan tailing timah di pulau Bangka: penelitian yang telah dilakukan dan prospek ke depan. Program Studi Agroteknologi FPPB, Universitas Bangka Belitung. http://download.portalgaruda.org/article.

Irawan RR, Sumarwan U, Suhardjo B, Djohar S. 2014. Strategic model of tin mining industry in indonesia (Case study of Bangka Belitung Province). International Journal of Business and Management Review Vol.2, No.3, pp.48-58, July 2014

Iskandar, Suwardi, Suryaningtyas DT. 2012. Reklamasi lahan-lahan bekas tambang: beberapa permasalahan terkait sifat-sifat tanah dan solusinya. Dalam Wigena et al. (eds): Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Hlm 29-36. Bogor, 29-30 Juni 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Lam EJ, Cánovas M, Gálvez ME, Montofré IL, Keith BF, Faz A. 2017. Evaluation of the phytoremediation potential of native plants growing on a copper mine tailing in northern Chile. Journal of Geochemical Exploration.

Mangga SA, Djamal B. 1994. Peta Geologi Bersistem Indonesia Lembar Bangka Utara Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Margono U, Supardjono JB, Partoyo E. 1995. Peta Geologi Bersistem Indonesia Lembar Bangka Selatan Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Marsoedi DS., Widagdo, Dai J, Suharta N, Darul SWP, Hardjowigeno S, Hof J, Jordans ER. 1997. Pedoman Klasifikasi Landform. Laporan Teknis no. 5. Versi 3. LREP II Project, CSAR, Bogor.

Noer A. 1998. Potensi dan prospek investasi di sektor pertambangan dan energi 1998-1999 Dalam Nazaruddin et al. (eds). Departemen Pertambangan dan Energi. Yayasan Krida Caraka Bhumi. Jakarta.

Nurtjahya E, Agustina F, Putri WAE. 2008. Neraca ekologi penambangan timah di Pulau Bangka studi kasus pengalihan lahan di ekosistem darat. Berkala Penelitian Hayati, Vol. 14(1) : 29–38.

Nurtjahya E, Setiadi D, Guhardja E, Muhadiono, Setiadi Y. 2009. Succession on tin-mined land in Bangka Island. Blumea Journal of Plant Taxonomy and Plant Geography. Volume 54, 2009:131-138.

Nurtjahya E, Agustina F. 2015. Managing the socio-economic impact of tin mining on Bangka Island, Indonesia – preperation for closure. In Fourie (eds) Mine Closure 2015, Vancouver Canada.

Puslitbang Geologi. 1995. Peta Geologi Bersistem Indonesia Lembar Belitung. Skala 1: 250.000. Puslitbang Geologi, Bandung.

Ribbe PH. 1975. Feldspar mineralogy. Rev. Mineral. Vol 2. Min. Soc. Am. Washington DC.

Ritung S, Nugroho K, Mulyani A, Suryani E. 2012. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian. Edisi Revisi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. 161 Hlm.

Shamshuddin, J., Paramananthan, S. and Nik Mokhtar. 1986. Morphology, mineralogy and chemistry of an ex-mining land in Ipoh, Perak. Pertanika 9(1): 89-97.

Soil Survey Staff. 2014. Keys to Soil Taxonomy. Twelfth Edition, 2014. Natural Resources Conservation Service-United States Department of Agricultural, Washington DC. 362p.

Subardja D, Kasno A, Sutono. 2012. Teknologi pencetakan sawah pada lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung. Dalam Wigena et al. (eds): Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Hlm 111-122. Bogor, 29-30 Juni 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Subardja D, S Ritung S, Anda M, Sukarman, Suryani E, Subandiono RE. 2016. Petunjuk Teknis Klasifikasi Tanah Nasional. Edisi 2/2016. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Bogor. 53 hlm.

Sujitno S. 2007. Sejarah Timah di Pulau Bangka. PT Tambang Timah Tbk Pangkal Pinang.

Sukarman, Ritung S, Suryani E, Anda M. 2016. Pedoman Pengamatan Tanah di Lapangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Bogor

Suryadi. A. 2016. The governance of tin mining in Bangka-Belitung archipelago province (from perspective of good governance). Global Journal of Politics and Law Research Vol.4, No.1: 18-28.

Tim Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2016a. Laporan Akhir Demfarm Rehabilitasi dan Pengembangan Usaha Tani Integrasi Tanaman dan Ternak Pada Lahan Bekas Tambang. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 213 hlm.

Tim Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2016b. Laporan Akhir Superimposed Teknologi Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 169 hlm.

USDA. 2012. National Soil Survey Handbook. Title 430-VI. Part 629: Glossay of Landform and Geologic Terms. US. Department of Agriculture, Natural Resources Conservation Service.

Utomo WH. 2012. Degradasi lahan di Indonesia (Dengan referensi kemungkinan penggunaan Phytomining untuk reklamasi tambang). Dalam Wigena et al. (Eds), Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Hlm 15-28. Bogor, 29-30 Juni 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.




DOI: http://dx.doi.org/10.2017/jti.v41i2.7176

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2017 Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal)

 

  Sertifikat Akreditasi JTI 2018Sertifikat Akreditasi JTI (2018)

p-ISSN : 1410-7244

Alamat:

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Jl. Tentara Pelajar No. 12 Bogor 16124

Telf. (0251) 8323012

Fax. (0251) 8311256

View My Stats

(Stat Kunjungan [Sejak 11 Des 2016])