Kelayakan Finansial Produksi True Shallot Seed di Indonesia (Studi kasus : Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Jawa Tengah) [Financial Feasibility of True Shallot Seed Production in Indonesia (Case Study : North Sumatera, East Java, and Central Java)]

Asma Sembiring, Rini Rosliani, Sortha Simatupang, Paulina Evy R, Sri Rustini

Abstract


Bawang merah merupakan komoditas penting dan bernilai ekonomi tinggi untuk Indonesia. Upaya untuk meningkatkan produktivitas bawang merah sesuai dengan potensi hasilnya terus diupayakan, namun terkendala oleh ketersediaan benih bawang merah bermutu dalam jumlah cukup sepanjang tahun bagi petani. Untuk mengatasi hal tersebut diupayakan dengan memproduksi biji botani bawang merah (true shallot seed =TSS). Penelitian sebelumnya menyatakan penggunaan TSS potensial untuk mengurangi biaya benih dan meningkatkan hasil panen bawang merah. Tujuan penelitian untuk mengetahui kelayakan finansial produksi biji botani bawang merah/TSS di tiga provinsi di Indonesia. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Desember 2016 di Desa Gurgur, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Tobassa, Sumatera Utara, Desa Tulungrejo Kecamatan Bauji Kota Batu, Jawa Timur, dan di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karang Anyar, Jawa Tengah. Analisis data menggunakan analisis biaya usahatani dan pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi TSS di Sumatera Utara dan Jawa Timur memberikan keuntungan yang sangat baik, yakni sebesar 602,7 juta dan 356,3 juta rupiah dengan nilai R/C berturut-turut 3,44 dan 2,63. Sementara itu produksi TSS di Jawa Tengah mengalami kerugian, dengan nilai kerugian sebesar 184,3 juta rupiah dengan nilai R/C 0,41.

Keywords

Kelayakan finansial; TSS; Produksi bawang merah; Analisis usahatani

Abstract

Shallot is an important crop that has high economic value for Indonesia. Efforts for increasing shallot productivity to fit its potential yield are continuously pursued. However, these efforts are mostly constrained by the availability of high quality shallot bulb seed and its accessibility to be used by farmers along the year. An alternative planting material that recently has been promoted is the use of true shallot seed (TSS). Preliminary findings suggest a promising potential of TSS use because it may not only reduce the seed costs, but also may increase the yield. The objective of this study was to assess the financial feasibility of TSS production in three provinces of Indonesia. The study was conducted from June to December 2016 in (1) Gurgur Village, Tampahan Subdistrict, Tobassa District, North Sumatera, (2) Tulungrejo Village, Bauji Subdistrict Batu, East Java, and in (3) Gumeng Village, Jenawi Subdistrict, Karang Anyar District, Central Java. Data were analyzed by using an enterprise budget method. The results suggest that TSS production in North Sumatera and East Java provides positive profit as much as IDR 602.7 million (R/C = 3.44) and IDR 356.3 million (R/C = 2.63), respectively. Meanwhile, because of unfavorable climatic condition, TSS production in Central Java experiences a loss as much as IDR 184.3 million, with the R/C of 0.41.


Keywords


Financial feasibility; TSS; Shallot production; Farm analysis

Full Text:

PDF

References


Anwar, A, Sudarsono & Ilyas 2005, ‘Perbenihan sayuran di Indonesia: Kondisi terkini dan prospek bisnis benih sayuran’, Buletin Agronomy, vol. 33, no. 1, pp. 38–47.

Basuki, RS 2009a, ‘Analisis tingkat preferensi petani terhadap karakterisitik hasil dan kualitas bawang merah varietas lokal dan impor’, J. Hort., vol. 19, no. 2, pp. 237–248.

Basuki, RS 2009b, ‘Analisis kelayakan teknis dan ekonomis teknologi budidaya bawang merah dengan benih biji botani dan benih umbi tradisional’, J. Hort., vol. 19, no. 3, pp. 214–227.

Basuki, RS 2010, ‘Sistem pengadaan dan distribusi benih bawang merah pada tingkat petani di Kabupaten Brebes’, J. Hort., vol. 20, no. 2, pp. 186–195.

Basuki, RS, Arshanti, IW, Zamzani, L, Khaririyatun, N, Kusandriani, Y & Luthfy 2014, ‘Studi adopsi cabai merah varietas Tanjung-2 hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat’, J. Hort., vol. 24, no. 4, pp. 355–362.

Direktorat Jenderal Hortikultura 2010, Perbenihan bawang merah, accessed from .

Fita, G 2004, ‘Manipulation of flowering for seed production of shallot’, Dissertation, Universitat Hanover, Hanover, Germany.

Hilman, Y, Rosliani, R & Palupi, ER 2014, ‘Pengaruh ketinggian tempat terhadap pembungaan, produksi, dan mutu benih botani bawang merah (true shallot seed)’, J. Hort., vol. 24, no. 2, pp. 154–161.

Kartapradja, R & Sartono, P 1990, ‘Percobaan varietas bawang merah di Sukamandi’, Bul. Penel. Hort., vol. 18, no. 2, pp. 57–60.

Ningsih, K, Felani, H & Sakdiyah, H 2015, ‘Keragaan usahatani dan pemasaran buah naga organik’, Agriekonomika, vol. 4, no. 2, pp. 168–184.

Nurasa, T & Hidayat, D 2008, ‘Analisis usahatani dan keragaan marjin pemasaran jeruk di Kabupaten Karo’, Jurnal OJS Unud, pp. 1–22, accessed from, .

Palupi, ER, Rosliani, R & Hilman, Y 2015, ‘Peningkatan produksi dan mutu benih botani bawang merah (true shallot seed) dengan introduksi serangga penyerbuk’, J. Hort., vol. 25, no. 1, pp. 26–36.

Permadi, A 1993, ‘Growing shallot from true seed - research results and problems’, Onion Newsletter for the Tropics, no. 5, pp. 35–38.

Permadi, AH 1991, ‘Penelitian pendahuluan variasi sifat-sifat bawang merah yang berasal dari biji’, Bul. Penel. Hort., vol. 20, no. 4, pp. 120–131.

Rabinowitch, HD 1990, ‘Physiology of flowering’, in Onions and Allied Crops, CRC Press, pp. 113–134.

Ridwan, H, Sutapradja, H & Margono 1989, ‘Daya produksi dan harga pokok benih/biji bawang merah’, Bul. Penel. Hort., vol. 17, no. 4, pp. 57–61.

Rosliani, R 2013, ‘Peningkatan produksi dan mutu benih botani (true shallot seed) bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) dengan BAP dan boron, serta serangga penyerbuk’,Tesis, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Rosliani, R, Hilman, Y, Sinaga, R, Hidayat, I & Sulastrini 2014, ‘Teknis pemberian benzilaminopurin dan pemupukan NPK untuk meningkatkan produksi dan mutu benih true shallot seed di dataran rendah’, J. Hort., vol. 24, no. 4, pp. 326–335.

Rosliani, R, Palupi, ER & Hilman, Y 2012, ‘Penggunaan benzil amino purin dan boron untuk meningkatkan produksi dan mutu benih true shallots seed bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) di dataran tinggi’, J. Hort., vol. 22, no. 3, pp. 242–250.

Rosliani, R, Palupi, ER & Hilman, Y 2013, ‘Pengaruh benzilaminopurin dan boron terhadap pembungaan, viabilitas serbuk sari, produksi dan mutu benih bawang merah TSS di dataran rendah’, J. Hort., vol. 23, no. 4, pp. 339-349.

Rosliani, R, Sinaga, R, Hilman, Y & Hidayat, I 2014, ‘Teknis pemberian benzilaminopurin dan pemeliharaan jumlah umbel per tanaman untuk meningkatkan produksi dan mutu benih botani bawang merah (true shallot seed) di dataran tinggi’, J. Hort., vol. 24, no. 4, pp. 316–325.

Satjadipura, S 1990, ‘Pengaruh vernalisasi terhadap pembungaan bawang merah’, Bul. Penel Hort., vol. 18, no. 2, pp. 61–70.

Sayaka, B & Hestina, J 2011, ‘Kendala adopsi benih bersertifikat untuk usahatani kentang’, Forum Penelitian Agro Ekonomi, vol. 29, no. 1, pp. 27–41.

Sembiring, A 2016, ‘Penggunaan benih bawang merah petani Brebes’, in Prosiding Seminar Nasional dan Kongres Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), pp. 791–797.

Sumarni, N, Guswanto, R & Basuki, R 2009, Implementasi teknologi TSS untuk memenuhi kebutuhan benih bawang merah sebanyak > 30% pada waktu tanam off season, Laporan Hasil Penelitian SINTA 2009, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Puslitbanghorti, Badan Litbang Pertanian.

Sumarni, N & Rosliani, R 2010, ‘Pengaruh naungan plastik transparan, kerapatan tanaman, dan dosis N terhadap produksi umbi bibit asal biji bawang merah’, J. Hort., vol. 20, no. 1, pp. 52–59.

Sumarni, N, Sopha, G & Gaswanto, R 2012, ‘Perbaikan pembungaan dan pembijian beberapa varietas bawang merah dengan pemberian naungan plastik transparan dan aplikasi asam Gibberelat’, J. Hort., vol. 22, no. 1, pp. 14–22.

Sumarni, N, Sumiati, E & Suwandi, - 2005, ‘Pengaruh kerapatan tanaman dan aplikasi zat pengatur tumbuh terhadap produksi umbi bibit bawang merah asal biji kultivar Bima’, J. Hort., vol. 15, no. 3, pp. 208–214.

Sundari, M 2011, ‘Analisis biaya dan pendapatan usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar’, Jurnal SEPA, vol. 7, no. 2, pp. 119–126.

Thamrin, M, Ramlan, Amriati, Ruchjaniningsih & Wahdania 2003, ‘Pengkajian sistem usahatani bawang merah di Sulawesi Selatan’, J Pengkajian dan Pengemb. Teknol. Pert., vol. 6, no. 2, pp. 141–153.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jhort.v28n2.2018.p289-298

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
';



Copyright (c) 2018 Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 


Jurnal Hortikultura (J.Hort) has been indexed :

         

===================================================================================================================

 Creative Commons License
Junal Hortikultura is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort
Permissions beyond the scope of this license may be available at www.litbang.pertanian.go.id.

Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Jl. Tentara Pelajar No. 3C Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor 16124, Indonesia
Telp.  +62 251-8372096, 7565366, (Ext. 324) (Hunting System)
Faks.  +62 251-8387651, 8575664, 8372096
E-mail: redaksi.jhorti@gmail.com

ISSN: 0853-7097
E-ISSN: 2502-5120

 

free web stats

View My Stats