Teknik Aplikasi Benzilaminopurin dan Pemeliharaan Jumlah Umbel Per Tanaman untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah (True Shallot Seed) di Dataran Tinggi

Rini Rosliani, Risma Sinaga, Yusdar Hilman, Iteu Margaret Hidayat

Abstract


Pembungaan dan pembentukan biji merupakan kendala dalam produksi benih true shallot seed (TSS) di Indonesia. Aplikasi benzilaminopurin (BAP) dan boron dapat meningkatkan pembungaan, viabilitas serbuk sari maupun produksi, dan mutu benih TSS. Teknik aplikasi BAP yang efisien belum diketahui, sementara jumlah umbel dalam satu tanaman diduga dapat menyebabkan terjadinya persaingan dalam pembentukan kapsul dan biji. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan teknik pemberian BAP dan pemeliharaan jumlah umbel yang efisien dalam meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi Lembang (1.250 m dpl.), pada bulan Maret sampai dengan September 2013 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu aplikasi BAP 37,5 ppm melalui (1) teknik penyiraman BAP tiga kali, (2) kombinasi teknik aplikasi BAP dengan perendaman + penyiraman dua kali, dan (3) teknik perendaman umbi bibit sebelum tanam, sedangkan faktor kedua yaitu pemeliharaan jumlah umbel per tanaman dengan perlakuan (1) pemeliharaan semua umbel, (2) pemeliharaan tiga umbel pada bunga ke-1 sampai dengan ke-3, (3) pada bunga ke-2 sampai dengan ke-4, dan (4) pada bunga ke-3 sampai dengan ke-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik aplikasi BAP melalui perendaman saja dan perendaman + penyiraman dua kali umur 1 dan 3 minggu setelah tanam (MST) menghasilkan produksi kapsul dan produksi TSS lebih efisien daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Teknik aplikasi BAP melalui perendaman + penyiraman dua kali umur 3 dan 5 MST 30% lebih efisien dan 60% lebih efektif dalam memproduksi TSS daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Namun daya berkecambah pada teknik perendaman + penyiraman lebih rendah daripada penyiraman tiga kali maupun perendaman saja. Pemeliharaan tiga umbel ke-1 sampai dengan ke-3 menghasilkan produksi dan mutu setara dengan pemeliharaan semua umbel. Implikasi penelitian ini adalah teknik produksi TSS yang efisien di dataran tinggi akan mudah dikembangkan oleh pengguna (petani/penangkar benih).


Keywords


Allium cepa var. ascalonicum; Induksi pembungaan; Perendaman; Penyiraman; Daya berkecambah; Sitokinin; Vernalisasi

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jhort.v24n4.2014.p316-325

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
';



Copyright (c) 2016 Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 


Jurnal Hortikultura (J.Hort) has been indexed :

         

===================================================================================================================

 Creative Commons License
Junal Hortikultura is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort
Permissions beyond the scope of this license may be available at www.litbang.pertanian.go.id.

Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Jl. Tentara Pelajar No. 3C Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor 16124, Indonesia
Telp.  +62 251-8372096, 7565366, (Ext. 324) (Hunting System)
Faks.  +62 251-8387651, 8575664, 8372096
E-mail: redaksi.jhorti@gmail.com

ISSN: 0853-7097
E-ISSN: 2502-5120

 

free web stats

View My Stats