Analisis Indeks dan Status Keberlanjutan Sistem Ketersediaan Beras di Beberapa Wilayah Indonesia

Rita Nurmalina

Abstract


English

This research was aimed at analyzing sustainability of rice availability at regional level, based on sustainability index with RAP-RICE method using Multi Dimensional Scaling (MDS). This study used primary and secondary data. Result of the MDS analysis RAP-RICE ordinary technique showed that a sustainability index in several regions in Indonesia varied between 33.37 and 67.23. Java and Sumatera were categorized as sustainable sufficient regions, while Kalimantan, Sulawesi and other regions were classified as sustainable less sufficient one. This indicates that the development of rice region should be directed to Sumatera in addition to Java. Analysis on 5 dimensions (ecology, economy, socio-cultural, institution and technology) indicated that the lowest economic dimension was found in Kalimantan, while the lowest ecology dimension was performed in Java and Sumatera has the lowest socio-cultural dimension. Other findings showed that, in Kalimantan the good dimension was the ecology only, while in the other regions have ecology and institution dimensions. Results of leverage analysis indicated that 23 out of 60 attributes were categorized as sensitivity influential to sustainability of rice availability system. Based on prospective analysis, there were seven key factors affecting rice availability system, namely production, productivity, land conversion, land suitability, rice field construction, per capita consumption, and number of population.


Indonesian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan sistem ketersediaan beras berdasarkan penilaian indeks dan status keberlanjutan dengan metode RAP-RICE menggunakan Multidimensional Scalling (MDS). Data yang digunakan data primer dan data sekunder. Hasil teknik ordinasi RAP-RICE metode MDS menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan ketersediaan beras regional berkisar 33,37 – 67,23. Wilayah Jawa dan Sumatera kategori status cukup berkelanjutan dalam sistem ketersediaan beras, sedangkan Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lainnya kategori kurang berkelanjutan dalam sistem ketersediaan beras. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan wilayah padi/beras selain fokus di Jawa juga sebaiknya diarahkan ke Sumatera. Analisis keberlanjutan sistem ketersediaan beras masing-masing dimensi pada 5 dimensi (ekologi, ekonomi, sosial budaya, kelembagaan, dan teknologi) menunjukkan bahwa dimensi ekonomi yang terendah di Kalimantan, sedangkan ekologi di Jawa, sosial budaya di Sumatera. Sedangkan di Kalimantan yang baik hanya ekologi dan wilayah lain adalah ekologi dan kelembagaan. Dari analisis leverage RAP-RICE didapatkan bahwa dari 60 atribut yang dianalisis ada 23 atribut yang sensitif berpengaruh pada indeks keberlanjutan sistem ketersediaan beras. Berdasarkan analisis prospektif diketahui bahwa ada tujuh faktor kunci atau faktor dominan yang sangat berpengaruh dalam sistem ketersediaan beras yaitu produksi, produktivitas, konversi lahan, pencetakan sawah, kesesuaian lahan, konsumsi per kapita dan jumlah penduduk.

Keywords


indeks dan status keberlanjutan; ketersediaan beras; sustainability index and status; rice availability

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jae.v26n1.2008.47-79

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Jurnal Agro Ekonomi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Kementerian Pertanian
Lt. III Gedung A.
Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu
Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks.  (0251) 8314496
E-mail : jae.psekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id


Statistik Pengunjung


Google Scholar Scilit logo