Analisis Kelayakan Finansial Penggunaan Bibit Bersertifikat Kelapa Sawit di Provinsi Kalimantan Barat

I. Ketut Kariyasa

Abstract


English

Oil palm is one of Indonesia’s non-oil and gas main export commodities. However, the productivity of oil palm, especially on smallholder oil palm plantation, is relatively low due to most farmers adopt noncertified seed. This study aims at assessing the impacts of oil palm certified seed and noncertified seed on production and farmers' income increase in West Kalimantan, as well as payback period of investment costs. A set of tools analysis were employed in this study, namely NPV, IRR, payback period, and ROI. The research results showed that the oil palm small holders adopting certified seed earned higher yield of 66.34% than those adopted noncertified seed. The first group also obtained higher NPV, IRR, and ROI of 79.45%, 31.84%, and 55.19%, respectively, than the latter. The farmers adopting certified seed were also able to return all investment more quickly. In the future, attempts to increase oil palm production should be prioritized through certified seed adoption and the planted area expansion. Enhancing certified seed production is necessary through oil palm experimental station capacity improvement in producing seed. The government should also encourage oil palm seed local producer along with strict supervision and guidance.


Indonesian

Sawit merupakan salah satu komoditas ekspor utama nonmigas Indonesia. Namun, produktivitas sawit khususnya pada perkebunan sawit rakyat masih rendah akibat banyak petani yang menggunakan bibit tidak bersertifikat/palsu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penggunaan bibit bersertifikat relatif terhadap bibit tidak bersertifikat di Kalimantan Barat terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani, serta waktu kembali biaya investasi. Seperangkat analisis diterapkan untuk menjawab tujuan dari penelitian ini, seperti NPV, IRR, payback period, dan ROI. Hasil analisis menunjukkan bahwa perkebunan sawit rakyat yang menggunakan bibit bersertifikat mampu berproduksi 66,34% lebih tinggi dari bibit tidak bersertifikat, serta memberikan NPV, IRR, dan ROI lebih tinggi masing-masing 79,45%; 31,84%; dan 55,19%. Petani yang menggunakan bibit bersertifikat juga mampu mengembalikan modal yang diinvestasikan lebih cepat dibanding petani yang menggunakan bibit tidak bersertifikat. Peningkatkan produksi sawit ke depan sebaiknya diprioritaskan dengan mendorong lebih banyak lagi petani yang menggunakan bibit bersertifikat terutama untuk menggantikan tanaman sawitnya yang sudah berumur tua, dan prioritas berikutnya baru perluasan areal sawit. Oleh karena itu, perlu upaya penyediaan bibit bersertifikat secara memadai melalui peningkatan kapasitas kebun percobaan sawit dalam memproduksi bibit, serta mendorong munculnya produsen bibit lokal melalui pengawasan dan pendampingan secara ketat.

Keywords


kelapa sawit; bibit bersertifikat; kelayakan finansial; Kalimantan Barat; oil palm; certified seed; financial feasibility; West Kalimantan

Full Text:

PDF (Indonesian)


DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jae.v33n2.2015.141-159

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2015 Jurnal Agro Ekonomi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Kementerian Pertanian
Lt. III Gedung A.
Kawasan Inovasi Pertanian Cimanggu
Jl. Tentara Pelajar No. 3B, Kota Bogor 16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks.  (0251) 8314496
E-mail : jae.psekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id


Statistik Pengunjung


Google Scholar Scilit logo