Program Siwab untuk Meningkatkan Populasi Sapi Potong dan Nilai Ekonomi Usaha Ternak

S. Rusdiana, nFN Soeharsono

Abstract


Siwab or its extension Mandatory cattle breeding is a manifestation of government commitment in increasing beef cattle population, and as a target for meat sufficiency in 2026. The program is believed to lead Indonesia to achieve beef self-sufficiency in the next 5-10 years. Beef cattle can be maximized in order to produce calves, and become a government’s focused program on enhancing beef cattle production through artificial insemination (AI). Based on the above problems, the government hopes to develop the program, it should not fail the umpteenth time to fulfil meat needs of the country. The purpose of this review is to describe the SIWAB program and the economic value of female beef cattle produced by AI which produces calf. This study approach is done through literature reviews related to SIWAB program implementation. SIWAB program includes two main programs namely the increase of porong cattle population through artificial insemination of AI and natural mating (Inka). With the AI through prgram, the parent beef cattle can regulate the cow's birth well. The mother cow bunting AI results can increase the selling value higher and can improve the welfare of farmers. The government's policy to pursue targeted beef self-sufficiency by the year 2026 is achieved, but the program must be responded and done well. Government policy to boost short-term beef cattle population can help to meet the needs of beef consumption, and in the long run the economic impact of farmers.

 

Abstrak

Program Sapi Induk Wajib Bunting (SIWAB) adalah perwujudan komitmen pemerintah dalam meningkatkan populasi sapi potong dan sebagai target untuk kecukupan daging tahun 2026. Program tersebut diyakini dapat mengantarkan Indonesia mencapai swasembada daging sapi pada 5-10 tahun ke depan. Sapi potong dapat dimaksimalkan potensinya agar dapat menghasilkan pedet, dan menjadi program pemerintah yang difokuskan untuk peningkatan produksi sapi potong melalui inseminasi buatan (IB). Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, harapan pemerintah dengan mengembangkan program tersebut tidak boleh gagal ke sekian kalinya dalam mencukupi kebutuhan daging di dalam negeri. Tujuan tulisan review ini adalah untuk  mendiskripsikan program SIWAB dan nilai ekonomi pada usaha sapi potong betina hasil IB yang menghasilkan pedet. Kajian ini merupakan studi pustaka melalui review berbagai referensi terkait pelaksanaan program SIWAB. Program SIWAB mencakup dua program utama yaitu peningkatan populasi sapi porong melalui inseminasi buatan IB dan kawin alam (Inka). Program IB memungkinkan mengatur kelahiran anak sapi dengan baik. Sapi induk bunting hasil IB dapat meningkatkan nilai jual lebih tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak. Kebijakan pemerintah adalah untuk mengejar swasembada daging sapi yang ditargetkan sampai tahun 2026 bisa tercapai, namun program tersebut harus direspon dan dikerjakan dengan baik. Kebijakan pemerintah untuk menigkatkan populasi sapi potong dalam jangka pendek bisa membantu memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi dan dalam jangka panjang berdampak peningkatan ekonomi peternak.


Keywords


SIWAB; improving; population; economic value; farmers; nilai ekonomi ternak; populasi sapi; peternak

Full Text:

PDF

References


Agung IGN, Pasay NHA, Sugiharso. 2008. Teori ekonomi mikro, suatu analisis produksi terapan. Jakarta (ID): Raja Grafindo Persada

Anantanyu S. 2011. Kelembagaan petani: peran dan strategi pengembangan kapasitasnya. J Sos Ekon Pertan dan Agribisnis. 7(2):102 –109.

Ariningsih A. 2014. Kinerja kebijakan swasembada daging sapi nasional. Forum Penelit Agro Ekon. 32(2):137-157.

Ashari, Ilham N, Nuryanti S. 2012. Dinamika program swasembada daging sapi: reorientasi konsepsi dan implementasi. Anal Kebijak Pertan. 10(2):181-198.

Astuti. 2004. Potensi dan keragaman sumber daya genetik sapi Peranakan Ongole (PO). Wartazoa. 14(3):98-106.

Atmakusuma J, Harmini, Winandi R. 2011. Mungkinkah swasembada daging terwujud. J Risal Kebijak PertanLingkung. 1(2):105-109.

Bamualim A. 2010. Pengembangan teknologi pakan sapi potong di daerah Semi Arid Nusa Tenggara. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pemuliaan Ruminansia (Pakan dan Nutrisi Ternak). Jakarta (ID): Kementerian Pertanian.

Bamualim A, Thalib A, Anggraeni YM, Maryono. 2008. Teknologi peternakan sapi potong berwawasan lingkungan. Wartazoa. 18(3):149-156.

Bamualim A, Wirdahayati. 2003. Nutrition and management strategies to improve bali cattle productivity in Nusa Tenggara. In: Entwistle K, Lindsay DR, editors. Strategies to improve bali cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proceedings No.110. Proceeding of a Workshop 4-7 February 2002, Bali, Indonesia, 11 (3):3-9. Camberra (AU): ACIAR.

Budiyono H. 2010. Analisis neraca perdagangan peternakan dan swasembada daging sapi 2014. CEFARS: J Agribisnis dan Pengemb Wil. 1(2):63-75.

Dahlanuddin A, Muzani, Sutaryono YA, Mcdonald C. 2010. Strategi peningkatan produktivitas sapi bali pada sistem kandang kompleks: pengalaman di Lombok Tengah, NTB. Prosiding Seminar Nasional Sapi Bali: Pengembangan sapi bali Ditjen PKH 2013. Statistik peternakan dan kesehatan hewan 2013. Jakarta (ID): Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Diwyanto K. 2008. Pemanfaatan sumber daya lokal dan inovasi teknologi dalam mendukung pengembangan sapi potong di Indonesia. J Pengemb Inov Pertan. I(3):173-188.

Diwyanto K, Rusdiana S, Wibowo B. 2010. Pengembangan agribisnis sapi potong dalam suatu sistem usaha tani kelapa terpadu. Wartazoa20(1):29-40.

Diwyanto K, Sitompul D, Manti I, Mathius IW, Soentoro. 2004. Pengkajian pengembangan usaha sistem integrasi kelapa sawit-sapi. Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Puslitbangnak bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu dan PT. Agricinal, Bengkulu, 9-10 September 2003.

Dinas Peternakan dan Kelautan Kabupaten Gowa. 2017. Jumlah ternak sapi betina induk yang telah di IB dan yang dipelihara oleh setiap peternak. Laporan Hasil IB Bulanan dari Petugas Inseminator Dinas Peternakan Kabupaten Gowa. Gowa (ID): Dinas Peternakan dan Kelautan Kabupaten Gowa.

Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Bogor Jawa Barat. 2015. Strategi pengembangan ternak sapi potong dalam mendukung pembangunan. Laporan Tahun 2015. Bogor (ID): Dinas Peternakan dan Pertanian Kabupaten Bogo.

[Dirjend PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2015. Peta wilayah sumber bibit sapi lokal Indonesia. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian.

[Dirjend PKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. 2016. Pedoman pelaksanaan Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Upsus SIWAB 2017). Jakarta (ID): Kementerian Pertanian.

Elly FH, Sinaga BM, Kuntjoro SU, Kusnadi N. 2007. Pengembangan usaha ternak sapi rakyat melalui integritas sapi-tanaman di Sulawesi Utara. Litbang Pertan. 27(2):67-72.

Febrina D, Liana M. 2008. Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ruminansia pada peternakan rakyat di Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Pakan Baru Riau. J Peternak. 5(1):28-37.

Ginting D. 2013. Tantangan dan strategi agribisnis sapi potong. [Internet]. [diunduh 2017 Jun 4]. Tersedia dari: https://agribisnispeternakan. wordpress.com/2013/04/15/tantangan-dan-strate gi-agribisnis-sapi-potong/

Gunawan,Sulastiyah A. 2010. Pengembangan usaha peternakan sapi melalui pola integrasi tanaman ternak dan pembangunan kawasan peternakan. J Ilmu-Ilmu Pertan. 6(2):157 – 168.

Haddi AH, Rombe MB, Fahrul. 2011. Analisis pendapatan peternakan sapi potong di Kecamatan Tanete, Kabupaten Barru. J Agribisnis Peternak.10(3):98-109.

Hadi P U, Ilham N. 2002. Problem dan prospek pengembangan usaha pembibitan sapi potong di Indonesia. J Litbang. 21(4):148-157.

Handayanta T, Rahayu ET, Sumiyati M. 2016. Analisis finansial usaha peternakan pembibitan sapi potong rakyat di daerah pertanian lahan kering. J Sains Peternak. 14(1):13-20.

Hardjosubroto W. 2004. Alternatif kebijakan pengelolaan berkelanjutan sumber daya genetik sapi potong lokal dalam sistem perbibitan ternak nasional. Wartazoa: Bul Ilmu Peternak Indonesia. 14(3):67-74.

Harmini, Asmarantaka RW, Atmakusuma J. 2011. Model dinamis dan sistem ketersediaan daging sapi Nasional. J Ekon Pembang. 12(1):128-146.

Hasan, S. 2013. Perkembangan dan penerapan teknologi peternakan dalam mendorong industri perbibitan sapi potong di Sulawesi Selatan. Seminar Nasional dan Forum Komunikasi Industri Peternakan IPB, International Convention Center, Nopember 2013 Hal. 112-116.

Hasan, S, Baba S. 2014. Model pengembangan sapi potong berbasis peternakan rakyat dalam mendukung program swasembada daging sapi nasional. [Internet]. [Diunduh 2017 Agus 25]. Tersedia dari: http://repository.unhas.ac.id/jurnal/ unsoed/

Hastuti D. 2008. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan sapi potong di tinjau dari angka konsepsi dan service per conception. Mediagro:J Ilmu-ilmu Pertan.4(1):12-20

Husnah N,Kallo R. 2010. Studi adopsi dan dampak diseminasi teknologi penggemukan sapi mendukung Farmer Managed-Extension Activites (FMA) di Sulawesi Selatan. Makassar (ID): BPTP Sulawesi Selatan.

Idris N, Harahap A, Fatati. 2017. Analisis tingkat kemandirian peternakan pada pola integrasi ternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi. J Ilm Ilmu Terap.1(2):162-169.

Ilham N. 2006. Analisis sosial ekonomi dan strategi pencapaian swasembada daging 2010. J Anal Kebijak Pertan. 4(2):131-145.

Ilham, N. 2007. Alternatif Kebijakan Peningkatan Pertumbuhan PDB Subsektor Peternakan di Indonesia. Jurnal Anal Kebijak Pertan. 5(4):135-142.

Ilham N., Saptana, Purwoto A, Supriyatna Y, Nurasa T. 2015. Kajian pengembangan industri peternakan mendukung peningkatan produksi daging. Laporan akhir tahun 2015. No. Kegiatan PSEKP/201 51803.009.001.011D, Rangkuman eksekutif [Internet]. [Diunduh 2017 Jul 11]. Tersedia dari: http://pse.litbang.pertanian.go.id/ ind/pdffiles/LHP_ILH_2015.pdf.

Indraningsih KS. 2011. Pengaruh penyuluhan terhadap keputusan petani dalam adopsi inovasi teknologi usaha tani terpadu. J Agro Ekon. 29(1):1 – 24.

Isbandi. 2003. Integrasi tanaman ternak di lahan pasang surut: potensi, kendala, dan alternatif pemecahannya. Wartazoa: Bul Ilmu Peternak. Indonesia. 13(2):74-82.

Kusnadi U. 2008. Inovasi teknologi peternakan dalam sistem integrasi tanaman-ternak untuk menunjang swasembada daging sapi. Pengemb Inov Pertan. 1(3):189 – 205.

Lestari RD, Baga LM, Nurmala R. 2017. Daya saing usaha penggemukan sapi potong rakyat di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. J Bul Peternak.41(1):101-112.

Mathius IW. 2008. Pengembangan sapi potong berbasis industri kelapa sawit. Pengemb Inov Pertan. 1(3):206-224.

Mathius IW. 2009. Produk samping industri kelapa sawit dan teknologi pengayaan sebagai bahan pakan sapi yang terintegrasi. Dalam:Fagi AM, Subandriyo, Rusastra IW, editors. Sistem integrasi ternak tanaman: padi-sawit-kakao. Jakarta (ID): LIPI Press.

Matondang RH, Rusdiana S. 2013. Langkah-langkah strategis dalam mencapai swasembada daging sapi/kerbau. J Penelit Pengemb Pertan. 32(3):132-138.

Monica N,Nohe DA, Sifriyani. 2013. Analisis Chi-Squrae dan transformasi data ordinal ke data interval menggunakan method of Succesive Interval (MSI). J Eksponensial 4(2):89-94.

Muladno. 2016. Realita di luar kandang II. Dinamika perkembangan peternakan: kapan Indonesia tidak lagi impor daging sapi. Majalah Trobos.Cetakan Pertama Mei 2016.

Nuhung IA. 2014. Kinerja, kendala, dan strategi pencapaian swasembada daging sapi. Forum Penelit Agro Ekon. 33(1):63-80.

Nuryanti S, Swastika DKS. 2011. Peran kelompok tani dan penerapan teknologi pertanian. Forum Penelit Agro Ekon.19(2):115-128.

Optani Indonesia. 2015. Pengusahaan ternak sapi potong di Indonesia. [Internet]. [Diunduh 2017 Sept 4]. Tersedia dari: http://www.omtani.com/ 2015/05/Artikel/ pengusahaan-ternak-sapi-potong-di-indonesia.html.

Priyono M, Shiddieq I, Widiyantono D, Zulfanita. 2015. Hubungan kausal antara tingkat penguasaan teknologi, dukungan kelembagaan, dan peran penyuluh terhadap adopsi integrasi ternak-tanaman. Inform Pertan. 24(2):141 – 148.

Rasyid A. 2012. Metode komunikasi dan penyuluhan pada petani sawah. J Ilmu Komun. 1(1):31 – 35.

Rusdiana S, Hutasoit R, Sirait J. 2016a. Analisis ekonomi usaha sapi potong di lahan perkebunan sawit dan karet. J SEPA. 12(2):146-155.

Rusdiana S, Aditi U, Hutasoit R 2016b. Analisis ekonomi usaha ternak sapi potong berbasis agroekosistem di Indonesia. Agroekonomika: J Sos Ekon Kebijak Pertan. 5(2):137-149.

Rusdiana S, Martono B. 2014. Analisis finansial diversifikasi usaha perkebunan kakao rakyat dan ternak di tingkat petani. J Sirkuler Inov Tanam Industri dan Penyegar. 2(3):167-169.

Rusdiana S, Matondang RH, Tahlib C. 2012. Economic analysis selling fregnat female in business of raising beef cattle. Proceedings International Conference on Livestock Production and Veterinary Technology, Bogor-Indonesia, Oktober 1-4, 2012: 384-391.

Rusdiana S, Soeharsono. 2017. Farmer group performance bali cattle in Luwu Distric East: the economic analysis. J Tropical Veterinary and Biomedical Res. 2(1):18-29

Saptana, Ilham N. 2015. Pengembangan sistem integrasi tanaman tebu-sapi potong di Jawa Timur. Anal Kebijak Pertan. 13(2): 147-165

Saptana, Ilham N, Winarso B,Darwis V. 2014. Analisis kebijakan stabilisasi harga daging sapi. Pertanian 2014, Laporan Akhir Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor (ID): Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Saptana, Pranadji T, Syahyuti, Elizabet R, Syahyuti. 2003. Transformasi kelembagaan tradisional untuk menunjang ekonomi kerakyatan di perdesaan: studi kasus di Provinsi Bali dan Bengkulu. Laporan hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor (ID): Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.

Siswoyo H, Setyono DJ, Fuah AM. 2013.Analisis kelembagaan dan peranannya terhadap pendapatan peternak di Kelompok Tani Simpay Tampomas, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. J Ilmu Produksi Teknol Hasil Peternak. 1(3):172-178.

Suharno. 2017. Upsus SIWAB jadi prioritas pembangunana peternakan 2017. Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan 2017 [Internet]. [Diunduh 2017 Jul 28] Tersedia dari: http://www majalahinfovet.com /2017/01/ upsus-siwabjadi-prioritas-pembangunan.html.

Sulaiman AA. 2017. Pemerintah genjot populasi sapi potong dan kerbau. [Internet]. [Diunduh 2017 Jul 28]. Tersedia dari: http://www.mediaindonesia. com/index.php/news/read/102670/pemerintah-genjot-populasi-sapi-dan-kerbau/2017-04-29.,

Suryana. 2010. Pengembangan usaha ternak sapi potong berorientasi agribisnis dengan pola kemitraan. J Litbang Pertan. 28(1):29-39.

Syahrul. 2017. Sulawesi Selatan genjot kelahiran sapi melalui Upsus SIWAB. [Internet]. [Diunduh 2017 Sept 7]. Tersedia dari: https://humas.sulselprov. go.id/berita/detail//http://mediaindonesia.com/news/read/95626/.

Talib C, Entwistle K, Siregar A, Budiarti-Turner S, Lindsay D. 2003. Survey of population and production dynamics bali cattle and existing breeding programs in Indonesia. In: Entwistle K, Lindsay DR, editors. Strategies to improve bali cattle in Eastern Indonesia. ACIAR Proceedings No. 110. Proceeding of a Workshop 4-7 February 2002, Bali, Indonesia, 11 (3): 3-9. Camberra (AU): ACIAR.

Utomo BN, Widjaja E. 2012. Pengembangan sapi potong berbasis industri perkebunan kelapa sawit. J Litbang Pertan. 31(4):153-161.

Utomo J. 2016. Kerja sama BRI dengan peternak sapi potong melalui program Kucuran Dana KUPS sebesar Rp 6 Miliar, terancam Macet. [Internet]. [Diunduh 2017 Jun 19]. Tersedia dari: http://www.beritametro.news/pasar-mall/kups-rp-6-miliar-bri-tahun-ini-terancam-macet

Widiati R. 2014. Membangun industri peternakan sapi potong rakyat dalam mendukung kecukupan daging sapi. Wartazoa. 24(4):191-200.

Winarso B, Sajuti R, Muslim C. 2006. Tinjauan ekonomi ternak sapi potong di Jawa Timur. Forum Penelit Agro Ekon. 23(1): 61-71.

Wiyatna MF. 2007. Perbandingan indes perdagingan sapi-sapi Indonesia (sapi bali, madura, PO) dengan sapi australian commercial cross (ACC). J Ilmu Ternak. 7(1):22 – 25.

Yani, M. 2017. Upaya khusus percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau bunting dan melahirkan dengan baik. Laporan semester 1 Juli 2017.. Mataram (ID): Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB

Yusdja Y, Ilham N. 2004. Tinjauan kebijakan pengembangan agribisnis sapi potong. Anal Kebijak Pertan. 2(2):167−182.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/fae.v35n2.2017.125-137

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Forum penelitian Agro Ekonomi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Kementerian Pertanian

Lt. III Gedung A. Kampus Penelitian Cimanggu
Jl. Tentara Pelajar No.3B, Kota Bogor-16111
Telp. (0251) 8333964 ext. 300-301, Faks.  (0251) 8314496
E-mail   : faepsekp@gmail.com
Website: http://pse.litbang.pertanian.go.id

Website design


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.