PRODUKSI DAN KANDUNGAN SELENIUM BEBERAPA GALUR TANAMAN TEMU-TEMUAN DI LAHAN PASANG SURUT, SUMATERA SELATAN

Muchamad Yusron, M. Januwati, Subowo Subowo

Abstract


Lahan pasang surut merupakan lahan potensial untuk pertanian. Saat ini sebagian lahan pasang surut di Sumatera Selatan telah direklamasi dan dimanfaatkan untuk lahan pertanian, terutama untuk budidaya padi. Salah satu kelebihan lahan pasang surut adalah kandungan mineral Fe, Cu, dan Se yang cukup tinggi. Kelebihan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk pertanian dengan kandungan Se (selenium) tinggi bermanfaat sebagai antioxidan. Salah satu komoditas potensial untuk lahan pasang surut adalah tanaman temu-temuan. Penelitian penanaman temu-temuan di lahan pasang surut bertujuan untuk mengetahui produksi dan kandungan unsur mikro Se pada rimpang tanaman temu-temuan di lahan pasang surut. Penelitian lapang dilakukan di Desa Karang Agung, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tiga jenis tanaman temu-temuan, yakni jahe emprit, kunyit, dan temulawak di-tanam dengan menerapkan standar prosedur operasional budidaya tanaman temu-temuan yang disesuaikan dengan kondisi lahan pasang surut, termasuk pengapuran dan pengaturan sistem drainase. Parameter yang diamati adalah produksi rimpang segar, mutu simplisia, dan kandungan Se pada rimpang temu-temuan. Sebagai pembanding ketiga jenis tanaman temu-temuan juga ditanam di tanah mineral di Sukamulia, Sukabumi dan dilakukan analisis Se pada rimpang temu-temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi rim-pang segar untuk jahe emprit, kunyit, dan temulawak masing-masing adalah 4,52; 12,90; dan 20,40 ton/ha. Mutu simplisia memenuhi standar MMI, dimana kadar sari larut alkohol adalah 13,13-14,77%; 12,79-16,54%, dan 5,98-7,12%. Kandungan Se pada rimpang jahe, kunyit, dan temulawak berturut-turut 1,78; 1,98; dan 2,08 ppm, sedangkan kandungan Se pada rimpang temu-temuan yang ditanam di Sukamulia, Sukabumi tidak terukur.

Keywords


Lahan pasang surut; produksi; selenium; temu-temuan

Full Text:

PDF

References


Abdurachman, A., A. Bambang, K. Sudarman, dan D.A. Suriadikarta. 2000. Perspektif pengembangan lahan rawa untuk pertanian di Indonesia. Prosiding temu pakar dan lokakarya nasional diseminasi dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan rawa, Jakarta, 23-26 Nopember 1999.

Adams, M. 2007. The top five nutrients for healthy skin. http://www.newstarget.com/ z021773.html, tanggal 5 Januari

Anonymous. 2004.Selenium. http://www.worldhealth.net/p/aadr- selenium.html, tanggal 10 Januari 2007.

Best, B. 2004. Selenium : AntiOxidant, Anti-Carcinogen, and Immune System Booster. http://www.benbest.com/nutrceut/Sel enium.html, tanggal 5 Januari 2007.

Brown, K. and J. Arthur. 2001. Selenium, selenoproteins, and human health: A review. Public Health Nutrition, vol. 4 (2b), pp. 593-599.

Brown, P. 2002. Principle of micronu- rient use. Pomology Department, University of California-Davis, USA.

Fraga, C.G. 2005. Relevance, essentiality, and toxicity of trace elements in human health. Mol Aspects Med. 2005 Aug-Oct; 26 (4-5) : 235-44.

Gunawan D. dan S. Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1. Penebar Swadaya, Jakarta.

Jones, J.B., B. Wolf, and H.A. Mills. 1991. Plant Analysis Handbook. Micro-Macro Publishing Inc.

Kopsell, D.A. and W.M. Randle. 1997. Selenate concentration affects selenium and sulfur uptake and accumulation by „Granex 33‟ onions. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 122 (5) : 721-726.

Olfield, J.E. 1991. Some implications of selenium for human health. Nutrition Today, July-August, 1991.

Raharjo, M. dan O. Rostiana. 2005a. Budidaya Tanaman Kunyit. Sirkuler Nomor 11, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Raharjo, M. dan O. Rostiana. 2005b. Budidaya Tanaman Temulawak. Sirkuler Nomor 11, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Rasmarkan, A. dan N. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Canisius

Press, Yogyakarta.

Rostiana, N. Bermawie, dan M. Raharjo. 2005. Budidaya Tanaman Jahe. Sirkuler Nomor 11, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Spinashanta, S. 2004. Selenium. http://www.spineuniverse.com/displ ayarticle. php/article1036.html. , tanggal 10 Januari 2007.

Suriadikarta, D.A., H. Supriadi, H.Malian, Z. Desmayanti, Suwarno, M. Januwati, dan A.H. Kristanto. 2000. Kesiapan teknologi dan kendala pengembangan usahatani lahan rawa. Prosiding temu pakar dan lokakarya nasional diseminasi dan optimalisasi

pemanfaatan sumber daya lahan rawa, Jakarta, 23-26 Nopember

World Health Organization. 1996. Selenium. In Trace Elements In Human Nutrition And Health, Geneva, WHO. pp. 105-122.




DOI: http://dx.doi.org/10.21082/bullittro.v20n1.2009.%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c)



View My Stats

Creative Commons License
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bultro

Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BUL LITTRO) Editorial Office :

Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute (ISMCRI)
Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor, Indonesia 16111
Telp. (0251) 8321879, Fax. (0251) 8327010
E mail : buletintro@gmail.com
Website : http://balittro.litbang.pertanian.go.id