Karakterisasi dan Pemanfaatan Plasma Nutfah Jeruk In Situ oleh Masyarakat Lokal Sumatera Utara

Sortha Simatupang

Abstract


Characterization and utilization of in situ citrus germplasm of collection maintained by local community. This study was aimed at characterizing of in situ citrus germplasm collection and their use. This Study was conducted through interviewing citrus retailers as well as communinity leaders from January- December 2004. There were 33 citrus accescions found in this study. Local communinity utilized citrus in several different ways such as traditional medicine, ingredient of processed food as well as consumed as fresh fruit. Five accescions such as Laukawar, Keprok Sipirok, Boci, Maga, and Keling were sweet and juicy. In addition, Laukawar and Boci, both are seedless. There were four accescions, Andaliman, Purut, Sate, and Gajah having strong citrus scent. Lemon Tea, Nipis, seedless Nipis, Begu, Purut, Sunde, and Sate were used as ingredient of processed food. Gajah, Purut, Pagar, Malem, Kuku Harimau, Kersik, Kapas, Kayu, Puraga, and Kelele were used as traditional medicine. Keling Karo had highest vitamin C content (12 mg/100 mg). Laukawar had the highest total soluble solid. Bunian seemed to be salt tolerant one grown in mangrove area.

 

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan karakterisasi plasma nutfah jeruk in situ dan pemanfaatannya oleh masyarakat lokal Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah eksplorasi. Wawancara terbuka tanpa kuesioner dilakukan pada pedagang jeruk yang dikros cek dengan para sesepuh masyarakat lokal. Survei dilakukan pada bulan Januari sampai Desember 2004. Dari eksplorasi diperoleh 33 aksesi jeruk di Sumatera Utara yang terpelihara secara in situ. Masyarakat lokal memanfaatkannya sebagai obat tradisional, bahan campuran olahan pangan, dan sebagai buah segar. Lima aksesi mempunyai rasa manis dan berair, yaitu jeruk Laukawar, Keprok Sipirok, Boci, Maga, dan Keling. Laukawar dan Boci adalah jeruk tanpa biji untuk konsumsi segar. Jeruk yang mempunyai aroma sangat kuat adalah Andaliman (skor 9), jeruk Purut, jeruk Sate, dan jeruk Gajah (skor 8). Jeruk olahan untuk campuran pangan, yaitu Lemon Tea, Nipis, Nipis Tanpa Biji, Begu, Purut, Sunde, dan Sate. Jeruk untuk obat tradisional adalah Gajah, Purut, Pagar, Malem, Kuku Harimau, Kersik, Kapas, Kayu, Puraga, dan Kelele. Kandungan vitamin C tertinggi terdapat pada jeruk Keling Karo (12 mg/100 mg). Jeruk dengan padatan total terlarut tertinggi terdapat pada jeruk Laukawar (15oBrix). Terdapat satu aksesi jeruk yang toleran salinitas, yaitu jeruk Bunian, yang tumbuh di daerah mangrove.


Keywords


Citrus sp.; germplasm; utilization; North Sumatera.



DOI: http://dx.doi.org/10.21082/blpn.v15n2.2009.p70-74

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Buletin Plasma Nutfah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


       


Buletin Plasma Nutfah

Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111
Jawa Barat, Indonesia
Telepon: (0251) 8339793, 8337975
Fax: (0251) 8338820
E-mail: buletin.plasmanutfah@gmail.com
Website: http://biogen.litbang.pertanian.go.id

P-ISSN : 1410-4377
E-ISSN : 2549-1393

Akreditasi Nomor: 598/AU3/P2MI-LIPI/03/2015




View My Stats